PENYEMBAHAN DIMULAI DARI SIAPA YANG KITA SEMBAH

10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!
(Matius 4:10)

Kalau kita bicara tentang penyembahan maka sangat banyak akan dijumpai penyebab orang itu menyembah Tuhan. Dimulai dengan motivasi yang benar tetapi tidak sedikit juga dimulai dari motivasi yang negatif/salah. Misalnya motivasi transaksional dengan menyembah supaya mendapat berkat, perlindungan, atau jawaban doa. Motivasi takut hukuman, dimana menyembah karena takut dihukum atau merasa bersalah. Motivasi pencitraan rohani, menyembah supaya untuk dilihat orang, membangun reputasi saleh. Motivasi pelarian dari ketaatan yaitu dengan mengganti ketaatan dengan ibadah. Atau motivasi pembenaran diri dengan menyembah untuk merasa lebih benar dari orang lain, dan masih banyak lagi.

Dalam bacaan ini kita melihat bagaimana Yesus menjawab pencobaan yang dilontarkan Iblis yaitu: Enyahlah, Iblis! menunjukkan otoritas ilahi-Nya. Berbeda dengan dua pencobaan sebelumnya di mana Yesus hanya menjawab dengan kutipan ayat, di sini Yesus memberikan perintah langsung untuk mengusir si penggoda. Ini menegaskan bahwa tidak ada ruang kompromi bagi penyembahan berhala. Tetapi juga kita dapat melihat bagaimana Yesus tahu betul siapa yang layak menerima penyembahan. Yesus menegaskan bahwa penyembahan bukanlah soal apa yang dilakukan, melainkan kepada siapa hati ini diarahkan. Iblis menawarkan jalan pintas: kuasa tanpa ketaatan, hasil tanpa penyembahan sejati. Namun Yesus menolak. Ia mengingatkan bahwa hanya Allah yang layak disembah dan dilayani. Dari sini kita belajar: ibadah bisa ramai, pelayanan bisa banyak, tetapi jika Allah bukan pusatnya, semuanya kehilangan makna. Penyembahan sejati selalu dimulai dari pengakuan bahwa hidup ini milik Tuhan sepenuhnya.

Mari kita tanyakan dengan jujur pada diri sendiri: Apakah yang selama mendasari penyembahan kita pengakuan, rutinitas, atau ada yang lain? Karena aktivitas rohani yang padat belum tentu mencerminkan hati yang tertuju kepada Allah. Luangkan waktu setiap hari untuk kembali menata arah hati sebelum melakukan apa pun bagi Tuhan. Karena Allah adalah pusat, bukan aktivitas. (GN)

Doa: Tuhan terimakasih untuk firman-Mu kembali menegaskan bahwa kami perlu melihat kembali kedalam diri kami, bahwa apakah kami benar-benar mendasari penyembahan kami dengan benar kepada Tuhan. Amin.

Bacaan Alkitab
Hosea 4-6