LEBIH DARI LITURGI
Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”
(Matius 15:8-9)
Kemarin kita membahas soal kejelasan penyembahan kita itu ditujukan kepada siapa? Dan hari ini kita akan melanjutkan renungan kita dengan sebuah tema menyembah Dia berarti melayani Dia itu lebih dari liturgi.
Berbicara tentang liturgi itu sesuatu yang sangat penting dalam ibadah, bahkan boleh dikatakan kerangka ibadah itu sendiri. Seperti rel kereta api dimana rel ini memastikan bahwa kereta tetap berada pada jalur yang benar mulai dari stasiun keberangkatan melewati jembatan, melewati terowongan hingga sampai kemudian di stasiun akhir. Karena liturgi itu penting maka tidak heran di beberapa gereja memiliki liturgi ibadah yang cukup beragam, misalnya minggu pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, dan ibadah-ibadah khusus itu masing-masing punya liturgi. Paling tidak di gereja ini, kita menemukan 4-6 liturgi yang berbeda dalam sebulan. Artinya liturgi bukanlah hal asing bagi orang Kristen seharusnya. Tetapi masalahnya yang sering terjadi adalah rel yang sudah bagus, wadahnya sudah cantik, kerangka sudah ok tetapi ternyata gerbongnya kosong, wadahnya kosong, bahkan akibatnya bisa melahirkan pemikiran dan tindakan yang keliru yaitu liturgi menjadi penentuh kita sedang atau tidak menyembah Tuhan.
Dalam bacaan kita hari ini kita melihat bersama bagaimana Yesus dengan tegas menegur orang Farisi dan ahli Taurat. Karena bagi mereka liturgi dan tradisi adalah segalanya. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa mereka ini sangat teliti dalam urusan tradisi seperti ketika menegur murid Yesus yang makan sebelum membasuh tangan (ayat 2) atau urutan kegiatan rohani yang seharusnya. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa penyembahan sejati tidak berhenti pada melakukan apa yang benar secara liturgi, atau secara lahiriah, tetapi bergerak menuju relasi yang hidup dengan Allah. Oleh karena itu, liturgi tanpa hati yang mengasihi Tuhan bisa berubah menjadi rutinitas yang kosong. Menyembah seharusnya menjadi perjumpaan, perlahan berubah menjadi kebiasaan. Sekali lagi Allah tidak sedang mencari umat yang hanya rapi dalam tata ibadah, tetapi umat yang rendah hati dan taat dalam kehidupan ini. Yesus menegaskan bahwa ketika ibadah hanya berhenti di bibir, itu hanyalah sebuah pertunjukan sandiwara. Penyembah yang sejati tidak berakhir saat pendeta mengucapkan amin di akhir kebaktian. Justru, menyembah yang sejati baru saja dimulai saat kita keluar dari gedung gereja dan melayani Dia. (GN)
Doa: Tuhan, ajar aku untuk menyembah-Mu bukan hanya tata cara beribadah, tetapi dengan hidup yang taat dan rela melayani. Pakailah hidupku menjadi persembahan yang berkenan kepada-Mu. Amin.
Bacaan Alkitab
Hosea 7-10
