BUKAN SEKADAR LAGU ROHANI DAN ATMOSFER IBADAH

Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.
(Yohanes 4:24)

Saya akan memulai dengan sebuah contoh yang secara tidak langsung mungkin kita pernah berada pada situasi tersebut. Sepulang ibadah minggu beberapa pemuda seperti biasa mereka mampir di salah satu cafe langganan mereka, dan salah seorang pemuda itu diwajahnya sedikit kecewa. Ketika ditanya kenapa, ia menjawab, kalian merasa nggak sih ibadah tadi kurang dapet. Lagunya biasa aja, suasananya juga nggak terlalu kerasa. Sementara teman-temannya yang lain merasa bahwa ibadah hari itu tetap berjalan rapi, seperti biasa. Pemilihan lagu juga sesuai dengan tema, Firman Tuhan pun disampaikan dengan baik. Jemaat berdoa dan bernyanyi bersama dengan begitu antusias. Namun di benak salah satu pemuda ini merasa, bahwa worship terasa kurang, musiknya kurang pas, dan atmosfer ibadah kurang, intinya banyak yang tidak sesuai ekspektasinya. Tanpa disadari, banyak dari kita pernah berada di posisi itu. Kita menilai penyembahan dari lagu apa yang dinyanyikan, musiknya seperti apa, atau atmosfer yang tercipta. Jika semuanya pas, kita bilang ibadahnya berkenan. Jika tidak, kita merasa Tuhan jauh, Tuhan tidak ada disana. 

Yesus pernah berbicara kepada seorang perempuan Samaria yang bingung tentang tempat dan cara menyembah Tuhan. Sehingga dalam kebingungannya dan ketidaktahuannya lahirnya hidup yang tak terarah (Lihat latar belakang perempuan Samaria ini). Jawaban Yesus sederhana tapi dalam, dimana Yesus mengatakan bahwa menyembah Tuhan bukan soal tempat, bukan soal bentuk luar, melainkan soal roh dan kebenaran. Yang artinya, menyembah bukan pertama-tama tentang apa yang terjadi diluar, tetapi tentang apa yang sungguh terjadi di hati. Karena lagu bisa sangat indah, musik bisa sangat menyentuh, atmosfer bisa sangat emosional tetapi jika hidup kita tidak mau taat, tidak mau diubahkan, dan tidak mau mengasihi, maka penyembahan berhenti sebagai pengalaman sesaat.

Sebaliknya, ada orang-orang yang menyembah Tuhan dalam kesederhanaan. Tidak ada musik megah, tidak ada lampu, tidak ada sorotan. Seperti yang dialami oleh Ludwig van Beethoven dikenal sebagai seorang komponis besar dalam sejarah musik. Ia mengalami kehilangan pendengaran secara bertahap hingga akhirnya menjadi tuli. Namun, keterbatasan itu tidak menghentikannya untuk terus berkarya. Beethoven tetap menghasilkan karya-karya musik rohani klasik yang sangat dalam secara iman, seperti Missa Solemnis, yang ia persembahkan bagi kemuliaan Allah. (GN)

Doa: Tuhan, ajari aku menyembah-Mu bukan hanya lewat lagu dan suasana ibadah, tetapi dengan hati yang sungguh mencari-Mu dan hidup yang mau taat. Biarlah penyembahanku nyata setiap hari. Amin.

Bacaan Alkitab
Hosea 11-14