BERGERAK DALAM MOTIVASI PELAYANAN YANG BENAR
Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya.
(2 Timotius 4:1)
Salah satu postingan dalam media sosial Wow Ministry mengatakan: Apakah aku sungguh menyembah Tuhan, atau sebenarnya sedang mencari pujian manusia? Satu tepuk tangan bisa menguatkan, tapi juga bisa jadi “racun” yang perlahan menggeser motivasi kita melayani. Kita mulai mengukur ibadah dari vibe yang ada di permukaan. Tepuk tangan memang bisa memberi semangat, tetapi jika hati tidak dijaga, pujian bisa perlahan mengubah motivasi kita. Kita mulai menilai ibadah dari suasananya. Kalau ramai, kita senang. Kalau sepi, kita kecewa. tanpa sadar, kita lebih memperhatikan tanggapan manusia daripada perkenanan Tuhan. John Calvin mengingatkan bahwa pelayanan Kristen itu seperti sebuah “teater”, bukan dalam arti berpura-pura, melainkan karena semua pelayanan dilakukan di hadapan Allah. Yang menjadi penontonnya bukan jemaat dan bukan manusia, tetapi Allah sendiri: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Allah hadir dalam setiap pelayanan, Ia mendengar, Ia melihat, dan Ia memperhatikan segala sesuatu yang kita lakukan. Karena itu, kita bukan sedang tampil untuk manusia, melainkan menjalankan tugas sebagai hamba yang setia. Paulus menegaskan hal ini kepada Timotius dengan sangat serius bahwa seluruh hidup dan pelayanan itu berlangsung di hadapan Allah. Apa pun yang kita lakukan melayani, mengajar, menegur, atau bertahan dalam kesetiaan semuanya dilihat oleh Tuhan. Bukan manusia yang menjadi pusat perhatian kita, melainkan Allah sendiri. Karena pelayanan bukanlah milik kita, pelayanan adalah pemberian dari Allah. Kita melayani bukan karena kita hebat, tetapi karena Tuhan mempercayakan pelayanan itu kepada kita. Itulah sebabnya pelayanan harus dijalani dengan sungguh-sungguh dan dengan hati yang benar. Pada akhirnya, bukan Tuhan yang membutuhkan pelayanan kita, melainkan kitalah yang membutuhkan pelayanan itu. Karena melalui pelayanan Tuhan membentuk iman kita dan menumbuhkan kedewasaan rohani kita disana. Jika manusia diam, Tuhan sanggup memakai ciptaan lain, karena seluruh alam semesta sudah menyatakan kemuliaan Allah. Karena itu, ketika kita diberi kesempatan untuk melayani Tuhan, terimalah itu sebagai anugerah. Pelayanan mungkin terlihat kecil dan sederhana di mata manusia, tetapi di hadapan Tuhan, pelayanan adalah pekerjaan yang mulia, karena dilakukan di hadapan Allah yang menjadi penontonnya. (GN)
Doa: Tuhan terimakasih untuk panggilan pelayanan yang boleh Tuhan berikan kepada kami. Mampukan untuk tetap setia untuk mengerjakannya. Terimakasih Tuhan. Amin.
Bacaan Alkitab
Yoel
