MENYEMBAH TIDAK BERHENTI DI HATI
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
(Amsal 4:23)
Dari kemarin kita membahas tentang betapa pentingnya hati dalam menyembah dan melayani Dia. Dan hari ini kita akan lanjutkan pemaparan tersebut.
Sering kali kita diajarkan bahwa yang terpenting dalam penyembahan adalah hati, itu benar! Tuhan melihat hati, bukan penampilan luar. Namun, penyembahan tidak boleh berhenti hanya di dalam hati. Seperti yang ditegaskan dalam bacaan kita hari ini, yaitu menegaskan bahwa hati bukanlah tujuan akhir, melainkan sumber yang memancarkan kehidupan. Apa yang ada di dalam hati akan mengalir keluar dan membentuk perilaku, sikap, serta respons hidup. Karena hati yang sungguh menyembah Tuhan secara alami akan mendorong adanya ekspresi nyata dalam hidup. Ibarat air yang dipanaskan di dalam teko. Semakin panas, air berubah menjadi uap, ketika tekanan uap semakin besar, ia tidak bisa lagi ditahan, lalu keluar melalui mulut teko dan terdengar bunyinya. Ekspresi itu bukan dipaksakan, melainkan hasil dari apa yang terjadi di dalam. Demikian juga dengan penyembahan kita kepada Dia. Jika hati kita sungguh dipenuhi oleh kasih dan kerinduan kepada Tuhan, maka penyembahan itu akan keluar secara alami dalam sikap, perkataan, dan tindakan.
Alkitab menunjukkan keseimbangan yang indah. Di satu sisi, hati memang menjadi pusat penyembahan, namun di sisi lain, Alkitab juga berulang kali mencatat ekspresi jasmani dalam penyembahan menyanyi, bersujud, mengangkat tangan, dan memuji Tuhan dengan suara nyaring. Ini bukan soal kepribadian introvert atau ekstrovert, melainkan tentang keutuhan penyembahan. Penyembahan sejati melibatkan seluruh diri kita. Ada orang yang berkata, saya diam saja, tapi hati saya menyembah Tuhan. Pernyataan ini perlu direnungkan dengan jujur. Tuhan memang melihat hati, tetapi hati yang benar tidak akan selamanya tersembunyi. Hati yang sungguh dijamah Tuhan akan menghasilkan respons. Penyembahan bukan untuk dilihat manusia, tetapi juga bukan untuk disembunyikan sepenuhnya dari kehidupan nyata.
Penyembahan yang sejati adalah ketika hati kita diubahkan, lalu perubahan itu tampak dari luar. Bukan sekadar gerakan kosong, tetapi ekspresi yang lahir dari hati yang mengasihi Tuhan. Ketika hati menyala bagi Tuhan, seluruh hidup pun ikut berbicara. Kiranya hari ini kita belajar menyembah dan melayani Tuhan dengan utuh bukan hanya di dalam hati, tetapi juga melalui hidup yang nyata, sebagai respons kasih kepada Tuhan yang layak disembah. (GN)
Doa: Tuhan, ajar kami menyembah-Mu dengan hati yang tulus, sehingga melahirkan ekspresi dan antusias dalam hidup melalui tindakan kami. Terimakasih Tuhan. Amin.
Bacaan Alkitab
Amos 1-3
