MELAYANI SESAMA = MELAYANI TUHAN
“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
(Matius 25:40)
Bukan rahasia umum lagi bahwa banyak gereja saat ini kekurangan orang yang mau melayani. Padahal, prinsip kekristenan yang dibawa oleh Yesus sangatlah jelas: Dia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Namun, rasa-rasanya prinsip ini sering kali hanya menjadi slogan semata. Karena pelayanan sering dipandang sebagai beban tambahan, bukan sebagai panggilan iman. Akibatnya, pelayanan hanya direspon oleh segelintir orang yang sama, sementara yang lain memilih untuk berada di zona nyaman sebagai penonton rohani. Masalahnya bukan semata-mata soal kemalasan, tetapi sering kali soal cara pandang yang keliru. Pelayanan dipersempit hanya sebagai aktivitas di dalam gereja: ikut tim, hadir rapat, atau menjalankan tugas tertentu. Di luar itu, hidup dianggap wilayah pribadi yang terpisah dari panggilan iman. Tanpa disadari, kita membagi hidup menjadi dua: hari Minggu untuk Tuhan, hari-hari lainnya untuk diri sendiri.
Pernyataan Yesus dalam Matius 25:40 cukup mengagetkan dan mengguncang cara berpikir para murid-Nya, itu ditandai dengan munculnya pertanyaan yang penuh keheranan (Lihat ayat 38-39), karena ternyata selama ini para murid hanya memahami pelayanan secara sempit dan bersifat vertikal saja. Dimana kalau melayani Tuhan hanya berarti melayani Yesus secara langsung. Oleh karena itu pada kesempatan itu, Yesus dengan sabar membuka mata mereka bahwa melayani sesama, terutama mereka yang kecil, lemah, dan terabaikan, adalah bentuk nyata dari melayani Tuhan itu sendiri. Selain daripada itu, Yesus sengaja menyebut “yang paling hina” untuk menunjukkan bahwa kerajaan Allah tidak bekerja dengan standar dunia. Ketika konsep melayani bagi dunia itu sering diukur dari posisi, pengaruh, dan pencapaian. Tetapi konsep Tuhan justru melihat kasih yang sederhana dan tersembunyi dalam bentuk perhatian kecil, waktu yang dibagi, telinga yang mau mendengar, dan hati yang mau peduli. Pelayanan sejati sering terjadi di tempat-tempat yang tidak terlihat dan tidak mendapat tepuk tangan.
Melalui renungan ini mengajak kita kembali untuk melihat diri kita, apakah kita benar-benar tidak punya waktu untuk melayani, ataukah kita hanya belum melihat bahwa seluruh hidup adalah ladang pelayanan? Karena seharusnya tidak ada ceritanya orang Kristen nganggur dalam melayani Tuhan. Jadi dimanapun dan dalam keadaan apapun disana kita selalu punya kesempatan untuk menghadirkan kasih Tuhan. Ketika kita melayani sesama dengan tulus, sesungguhnya kita sedang melayani Kristus disana. (GN)
Tuhan Yesus memberkati..
Bacaan Alkitab
Amos 4-6
