FOMO & KESEHATAN SPIRITUAL KELUARGA

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”
(Lukas 10:41-42)

Sejauh ini kita sudah melihat dan merenungkan dampak FOMO (Fear of Missing Out) terhadap kesehatan keluarga kita, baik dalam hal emosional, finansial, relational dan digital. Mungkin yang jarang diperhatikan adalah bahwa FOMO juga bisa terjadi dalam kehidupan spiritual/ kerohanian. Misalnya,

FOMO Spiritual

Perilaku

Dampak thd Keluarga

Ibadah yang Formalitas

Datang ke gereja, tapi pikiran melayang ke mana-mana

Keluarga kehilangan makna ibadah, anak melihat agama sbg rutinitas kosong

Pelayanan yang Pamer

Melayani agar dilihat orang, bukan unt memuliakan Tuhan

Pelayanan kehilangan ‘kuasa’, justru membuat keluarga kering, lelah dan kecewa

Penekanan pd Pengalaman Rohani

Membandingkan pengalaman Rohani orang lain yang nampaknya lebih ‘diberkati’ dan ‘diurapi’

Iman menjadi dangkal, bergantung pada emosi, bukan pada firman

Mengikuti Trend Gereja

Ikut-ikutan trend gereja yang sedang booming tanpa memahami esensi

Perilaku permukaan tanpa perubahan hati, justru menimbulkan sinisme rohani

Perikop ini adalah salah satu narasi paling tajam tentang prioritas rohani. Yesus berada di rumah Marta dan Maria. Dua saudari ini merespons kehadiran Yesus dengan cara yang sangat berbeda—dan di sinilah FOMO rohani mulai terlihat. Kata kuncinya ada pada kata “kuatir” yang dalam bahasa asli berarti “terpecah dan ditarik ke berbagai arah.” Inilah definisi sempurna dari FOMO rohani: hati yang ditarik ke sana-sini oleh banyak hal, sehingga kehilangan fokus pada “satu hal yang perlu”—yaitu kehadiran Kristus sendiri.

Banyak keluarga Kristen yang rajin ke gereja setiap Minggu, tetapi tidak pernah berdoa bersama di rumah. Mereka memiliki kegiatan rohani di luar, tetapi rumah mereka kosong dari hadirat Tuhan. Inilah FOMO rohani: sibuk terlihat rohani di depan umum, tetapi kering secara pribadi dan keluarga. Ingat, kesehatan rohani yang sejati tidak diukur dari seberapa banyak kita melayani di gereja, tetapi dari seberapa dalam kita merindukan Tuhan di rumah. Anak-anak kita lebih belajar dari apa yang mereka lihat di rumah daripada dari apa yang mereka dengar di mimbar. -Dan

Bacaan Alkitab
Imamat 11-13