DOA YANG MENGGERAKKAN LANGKAH

Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.
(Yakobus 2:17)

Ada anggapan bahwa setelah seseorang berdoa, tugasnya telah selesai. Seolah-olah doa adalah akhir dari segala usaha, sehingga yang perlu dilakukan hanyalah menunggu Tuhan bertindak. Padahal, dalam banyak bagian Alkitab kita melihat bahwa doa justru menjadi awal dari sebuah perjalanan iman. Melalui doa, Tuhan membentuk hati, meluruskan motivasi, dan mempersiapkan umat-Nya untuk melangkah sesuai dengan kehendak-Nya. Doa yang sejati tidak membuat seseorang pasif, tetapi mendorongnya untuk taat ketika Tuhan membuka jalan.

Hal itulah yang kita lihat dalam kehidupan Nehemia. Ketika mendengar kabar tentang kehancuran Yerusalem, ia tidak langsung mengambil keputusan atau menyusun strategi. Ia juga tidak terburu-buru mencari dukungan politik maupun kekuatan manusia. Langkah pertama yang ia lakukan adalah datang kepada Tuhan. Selama beberapa hari Nehemia menangis, berkabung, berpuasa, dan berdoa. Di hadapan Allah ia mencurahkan isi hatinya, mengakui dosa bangsanya, mengingat kembali janji Tuhan, dan memohon belas kasihan-Nya.

Namun, doa Nehemia tidak berhenti sebagai ungkapan perasaan. Menjelang akhir doanya, ia memohon, “Berhasillah kiranya hamba-Mu ini hari ini dan buatlah orang ini menaruh belas kasihan kepadaku.” (Neh. 1:11). Permohonan itu menunjukkan bahwa Nehemia telah siap mengambil langkah. Ia sadar bahwa Tuhan mungkin akan memakai dirinya sebagai bagian dari jawaban atas doa yang ia panjatkan. Doanya bukan sekadar meminta Tuhan bekerja, tetapi juga menyatakan kesediaannya untuk dipakai oleh Tuhan.

Warren Wiersbe pernah berkata,
“Prayer is not preparing God to do our will. It is preparing us to do His will.”
“Doa bukan mempersiapkan Allah untuk melakukan kehendak kita, melainkan mempersiapkan kita untuk melakukan kehendak-Nya.”

Perkataan ini sangat menggambarkan kehidupan Nehemia. Selama masa doa itu, Tuhan bukan hanya sedang mempersiapkan jalan di hadapan raja Artahsasta, tetapi juga sedang mempersiapkan hati Nehemia. Ketika waktu Tuhan tiba, Nehemia telah memiliki keberanian, kerendahan hati, dan iman untuk melangkah menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya.

Sering kali kita pun berdoa agar Tuhan mengubah keadaan, tetapi lupa bertanya apakah Tuhan sedang mengubah hati kita. Kita berdoa agar keluarga dipulihkan, tetapi masih sulit mengampuni. Kita berdoa agar gereja dipakai Tuhan, tetapi enggan terlibat melayani. Kita berdoa agar bangsa Indonesia menjadi lebih baik, tetapi tidak mau memulai perubahan dari diri sendiri. Padahal, Tuhan kerap memakai orang-orang yang bersedia berkata, “Tuhan, pakailah aku.”

Yakobus mengingatkan, “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.” (Yak. 2:17). Ayat ini tidak mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh melalui perbuatan, tetapi menegaskan bahwa iman yang hidup akan menghasilkan ketaatan. Doa yang lahir dari iman akan mendorong seseorang untuk melangkah ketika Tuhan memanggilnya.

Sebagai gereja yang Tuhan tempatkan di Indonesia, kita dipanggil untuk tidak hanya menjadi gereja yang pandai berdoa, tetapi juga gereja yang bersedia menjadi bagian dari jawaban doa itu sendiri. Ketika kita berdoa agar kasih Tuhan dinyatakan di negeri ini, marilah kita terlebih dahulu menjadi pribadi yang mengasihi. Ketika kita berdoa agar damai sejahtera memenuhi bangsa ini, marilah kita menjadi pembawa damai di lingkungan kita. Ketika kita berdoa agar semakin banyak orang mengenal Kristus, marilah kita berani menjadi saksi melalui perkataan dan kehidupan kita.

Nehemia tidak mengetahui seluruh proses yang akan ia hadapi. Ia tidak memiliki kepastian apakah raja akan mengabulkan permohonannya atau tidak. Namun ia tetap melangkah, karena ia percaya bahwa Allah yang memanggilnya adalah Allah yang akan menyertainya. Iman sejati tidak menunggu semua keadaan menjadi sempurna. Iman sejati melangkah dalam ketaatan karena percaya kepada Pribadi yang memegang masa depan.

Kiranya melalui kehidupan Nehemia kita belajar bahwa doa dan tindakan tidak dapat dipisahkan. Doa membawa kita semakin dekat kepada Tuhan, sedangkan ketaatan membuktikan bahwa kita sungguh percaya kepada-Nya. Biarlah gereja Tuhan di Indonesia dikenal bukan hanya karena doa-doanya yang sungguh-sungguh, tetapi juga karena kesediaannya menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan kasih, keadilan, damai sejahtera, dan pengharapan bagi bangsa ini. – Tin

Bacaan Alkitab
Bilangan 31-32