MENGAKU SEBELUM MEMINTA
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
(1 Yohanes 1:9)
Ada kecenderungan dalam diri manusia untuk lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada mengakui kesalahannya sendiri. Ketika melihat keadaan yang tidak baik, kita sering kali segera mencari siapa yang harus disalahkan. Demikian juga ketika melihat berbagai persoalan yang terjadi di tengah bangsa. Kita mungkin dengan mudah menyalahkan pemerintah, pemimpin, sistem, atau orang lain. Padahal, firman Tuhan mengajarkan bahwa pembaruan selalu dimulai dari hati yang bersedia datang kepada Allah dengan kerendahan hati dan pengakuan dosa.
Inilah yang membuat doa Nehemia begitu istimewa. Ketika mendengar kabar tentang Yerusalem yang hancur, ia tidak langsung memohon agar Tuhan segera memulihkan bangsanya. Ia juga tidak memulai doanya dengan menuntut Allah bertindak. Sebaliknya, Nehemia terlebih dahulu datang dengan hati yang remuk di hadapan Tuhan. Ia mengakui dosa bangsanya, bahkan dengan rendah hati ia berkata, “…aku mengaku dosa orang Israel yang telah kami lakukan terhadap Engkau. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.” (Neh. 1:6).
Perhatikan bahwa Nehemia tidak berkata, “Mereka telah berdosa,” tetapi, “Kami telah berdosa.” Padahal, secara pribadi tidak ada catatan bahwa Nehemia ikut melakukan pemberontakan yang menyebabkan bangsa Israel dibuang ke Babel. Namun, sebagai bagian dari umat Allah, ia tidak melepaskan dirinya dari tanggung jawab rohani bangsanya. Ia merendahkan diri dan mengakui bahwa dirinya pun membutuhkan belas kasihan Tuhan.
Sikap seperti inilah yang sering kali hilang dalam kehidupan orang percaya masa kini. Kita lebih mudah menunjuk kesalahan orang lain daripada membiarkan firman Tuhan terlebih dahulu menyelidiki hati kita. Kita berharap Tuhan mengubah keadaan, tetapi lupa meminta Tuhan mengubah hidup kita. Kita rindu melihat pemulihan terjadi di sekitar kita, tetapi enggan mengakui bahwa kita sendiri juga memerlukan pertobatan setiap hari.
Rasul Yohanes memberikan sebuah penghiburan sekaligus ajakan yang indah kepada setiap orang percaya. Ia berkata, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1Yoh. 1:9). Ayat ini menunjukkan bahwa pengakuan dosa bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru di sanalah kita mengalami kasih karunia Allah. Tuhan tidak pernah menolak hati yang datang kepada-Nya dengan tulus dan penuh penyesalan. Sebaliknya, Ia membuka tangan-Nya untuk mengampuni, memulihkan, dan memberikan kesempatan yang baru.
Tema minggu ini mengajak kita berdoa, “Ampunilah Bangsa Kami.” Namun doa itu tidak akan bermakna apabila kita hanya memikirkan dosa bangsa tanpa pernah memeriksa hati sendiri. Sebelum memohon agar Tuhan memulihkan Indonesia, marilah kita terlebih dahulu bertanya, Apakah ada dosa yang masih saya pelihara? Apakah hidup saya sudah mencerminkan kehendak Tuhan? Apakah saya sudah menjadi terang di lingkungan tempat Tuhan menempatkan saya? Pemulihan sebuah bangsa selalu dimulai dari pribadi-pribadi yang mau hidup dalam pertobatan.
Nehemia memahami bahwa tembok Yerusalem yang runtuh hanyalah gambaran dari kerusakan yang lebih dalam, yaitu rusaknya hubungan umat dengan Allah. Karena itu, ia tidak hanya memikirkan pembangunan tembok, tetapi terlebih dahulu memikirkan pemulihan hubungan dengan Tuhan. Begitu pula dengan kita. Bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik atau kemajuan ekonomi. Bangsa ini membutuhkan hati-hati yang kembali kepada Tuhan dan hidup dalam ketaatan kepada firman-Nya.
Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk memiliki kerendahan hati seperti Nehemia. Jangan pernah merasa diri paling benar atau paling rohani. Sebaliknya, marilah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang terbuka, mengizinkan firman-Nya menyelidiki setiap bagian kehidupan kita. Ketika kita hidup dalam pertobatan yang sungguh-sungguh, Tuhan bukan saja mengubahkan hidup kita, tetapi juga dapat memakai kita menjadi alat pemulihan bagi keluarga, gereja, dan bangsa ini.
Marilah kita terus memohon agar Tuhan membangkitkan gereja-Nya menjadi komunitas yang rendah hati, yang tidak hanya pandai berbicara tentang pertobatan, tetapi terlebih dahulu menghidupinya. Sebab dari hati yang bertobat, Tuhan dapat memulai pekerjaan-Nya yang besar bagi bangsa ini. – Tin
Bacaan Alkitab
Bilangan 25-26
