AMPUNILAH BANGSA KAMI

berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.
(Nehemia 1:6)

Bulan Agustus selalu mengingatkan kita pada rasa syukur atas kemerdekaan bangsa Indonesia. Kita menikmati banyak hal yang Tuhan anugerahkan melalui negeri ini: keluarga, pekerjaan, pendidikan, pelayanan, dan kesempatan untuk hidup serta berkarya. Namun di balik rasa syukur itu, kita juga tidak dapat menutup mata terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa kita. Berita tentang korupsi, penyalahgunaan wewenang, kekerasan, ketidakadilan, hingga lunturnya nilai-nilai kehidupan menjadi sesuatu yang hampir setiap hari kita dengar. Tidak sedikit orang akhirnya merasa pesimis dan berpikir bahwa keadaan tidak akan pernah berubah.

Ketika Nehemia mendengar kabar tentang Yerusalem yang telah hancur, ia pun berhadapan dengan kenyataan yang menyedihkan. Tembok kota runtuh, pintu-pintu gerbang terbakar, dan umat Allah hidup dalam kehinaan. Menariknya, Nehemia tidak memulai dengan mencari solusi. Ia juga tidak menyalahkan generasi sebelumnya yang telah membawa bangsa Israel ke dalam pembuangan. Alkitab mencatat bahwa ia duduk, menangis, berkabung, berpuasa, lalu berdoa.

Respons Nehemia menunjukkan bahwa ia memiliki hati yang peduli terhadap bangsanya. Kesedihan yang ia rasakan bukan sekadar emosi sesaat, melainkan beban yang membawanya datang kepada Tuhan. Nehemia sadar bahwa persoalan bangsanya tidak dapat diselesaikan hanya dengan kekuatan manusia. Bangsa itu membutuhkan belas kasihan Allah.

Hal lain yang patut kita perhatikan adalah isi doa Nehemia. Ia tidak berkata, “Mereka telah berdosa kepada-Mu.” Sebaliknya, ia berkata, “Kami telah berbuat dosa terhadap Engkau.” Bahkan ia mengakui dosa dirinya dan keluarganya (ay. 6-7). Nehemia tidak berdiri sebagai hakim atas bangsanya. Ia berdiri sebagai bagian dari bangsa itu, memohon agar Tuhan berkenan mengampuni dan memulihkan.

Sikap seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh gereja Tuhan. Sangat mudah bagi kita untuk mengkritik keadaan bangsa, tetapi firman Tuhan mengajak kita melakukan sesuatu yang lebih penting, yaitu menjadi pendoa syafaat. Tuhan memang memanggil gereja untuk menjadi terang dan garam dunia, tetapi terang itu harus terlebih dahulu lahir dari hati yang mengasihi bangsanya dan setia membawa setiap pergumulan kepada Tuhan.

Tema bulan ini, Church for the Country, mengingatkan kita bahwa kehadiran gereja di Indonesia bukanlah sebuah kebetulan. Tuhan menempatkan kita di negeri ini dengan sebuah tujuan. Ia memanggil kita untuk menjadi saksi Kristus, menghadirkan kasih-Nya, dan mengambil bagian dalam mengusahakan kesejahteraan bangsa, dimulai dengan doa yang sungguh-sungguh.

Mungkin kita bukan orang yang memiliki jabatan penting. Kita bukan pemimpin bangsa atau pengambil kebijakan. Namun kita semua dapat melakukan apa yang dilakukan Nehemia. Kita dapat datang kepada Tuhan, memohon belas kasihan-Nya, dan percaya bahwa tidak ada doa yang dinaikkan dengan iman yang sia-sia di hadapan-Nya.

Di bulan kemerdekaan ini, marilah kita tidak hanya bersyukur karena Tuhan menempatkan kita di Indonesia. Marilah kita juga bertanya, “Sudahkah saya mengambil bagian bagi bangsa ini?” Mungkin langkah pertama yang Tuhan kehendaki bukanlah melakukan sesuatu yang besar, melainkan berlutut dan berdoa. Sebab sebelum Nehemia membangun tembok Yerusalem, ia terlebih dahulu membangun mezbah doa. – Tin

Bacaan Alkitab
Bilangan 21-22