FEAR FACTOR

“Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”
(Mazmur 56:4-5)

Bacaan: Mazmur 56:4-5, 11-12

“Takut, bukan berarti tidak percaya” Ketika rasa takut melanda, kecenderungan kita adalah panik dan bereaksi secara impulsif, dan hal ini dapat mengaburkan pandangan kita kepada Allah. Ketakutan sering kali timbul saat apa yang diandalkan (pekerjaan, kesehatan, koneksi, atau rencana) mulai goyah. Ketakutan sering membuat sesuatu yang belum jelas menjadi seolah-olah pasti terjadi. Kita sering takut bukan terhadap apa yang sedang terjadi, tetapi terhadap apa yang kita bayangkan mungkin terjadi. Daud menulis Mazmur ini di tengah ancaman maut yang sedang dihadapinya. Daud bukan manusia super yang tidak pernah takut, sebaliknya di sisi keheroikannya, Daud juga mempunyai ketakutan. Saat itu, Daud ditangkap oleh orang-orang Filistin di Gad (1 Samuel 21:10-15). Sebelumnya Daud sedang melarikan diri dari kejaran raja Saul yang ingin membunuhnya, dan Daud masuk ke wilayah musuh bebuyutannya, kota kelahiran Goliat. Kita bisa membayangkan kondisi yang dialami oleh Daud, ketakutan yang nyata, baik itu penyiksaan ataupun kematian. Daud tidak berpura-pura berani dan menjadi kuat. Ia mengakui ketakutan yang sedang dihadapinya, dan disinilah yang menarik, Daud tetap mengarahkan pandangannya kepada Tuhan sebagai gunung batu kokoh yang tidak berguncang di tengah situasi yang terus berubah-ubah. Daud berkata “waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu”. Bagian ini menarik, sebab Daud tidak sedang berkata “kalau aku takut, aku berhenti takut” melainkan Daud berkata “ketika aku takut, aku percaya kepada-Mu” Daud menyimpulkan bahwa jika Allah di pihaknya, kekuatan manusia tidak akan mampu menghancurkannya. Kita dapat belajar, iman yang sejati bukanlah ketiadaan rasa takut. Iman sejati adalah tetap mengarahkan kepada Kristus yang sudah menebus ketakutan terbesar dalam hidup kita yaitu kematian kekal. Kristus telah membayar lunas, sehingga kita mempunyai pengharapan yang pasti. Dalam ketakutan yang kita hadapi, kita dapat terus memandang Kristus, sebab tangan kasih-Nya selalu memegang kita. Rasa takut memang sering membuat kita merasa sendirian, namun sesungguhnya Kristus tidak pernah meninggalkan kita.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih untuk kasih dan pengobanan-Mu yang membuat kami tidak perlu takut lagi kepada kesulitan dunia, amin. (gian).

Bacaan Alkitab
Mazmur 7, 27, 31, 24, 52