APA ITU IMAN?

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
(Ibrani 11:1)

Ketika kita berkata “saya beriman kepada Tuhan,” apa sebenarnya yang kita maksud? Di dalam percakapan sehari-hari, kata “iman” sering kali dipakai dengan sangat longgar. Ada yang menganggap iman sekadar perasaan religius—sensasi hangat di dalam hati saat mendengar lagu rohani. Ada yang memandangnya sebagai warisan keluarga—sesuatu yang kita terima dari orang tua dan kita teruskan tanpa pernah benar-benar memikirkannya. Ada pula yang memahami iman sebagai keyakinan buta—lompatan irasional yang menolak pertanyaan dan akal budi. Namun Alkitab melukiskan iman jauh lebih dalam dan jauh lebih kaya dari semua anggapan tersebut.Penulis Ibrani mendefinisikan iman sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Perhatikan bahwa iman bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan fondasi yang menopang kenyataan. Iman bukan sekadar merasa tenang saat berdoa, bukan pula sekadar tahu bahwa Tuhan itu ada—sebab bahkan setan pun tahu dan gemetar (Yakobus 2:19). Iman yang alkitabiah adalah sesuatu yang mengakar, yang menopang seluruh hidup seseorang, yang membuatnya mampu berdiri teguh bahkan ketika segala sesuatu di sekitarnya goyah.Dalam tradisi Reformed, iman yang sejati digambarkan sebagai permata dengan tiga sisi yang tak terpisahkan: notitia (mengetahui isi Injil), ascensus (menyetujui dan mengakui kebenarannya), dan fiducia (mempercayakan diri sepenuhnya kepada Kristus). Ketiganya bukanlah tangga yang kita naiki satu per satu, seolah-olah kita bisa berhenti di anak tangga pertama dan merasa puas. Ketiganya bukan pula tiga jenis iman yang berbeda, di mana kita bisa memilih salah satu yang paling cocok dengan kepribadian kita. Sebaliknya, ketiganya adalah satu kesatuan organik yang saling menopang dan bertumbuh bersama—seperti akar, batang, dan buah dari satu pohon yang sama. Iman yang sehat adalah iman yang mengenal isi Injil dengan benar, merangkulnya sebagai kebenaran yang mengikat, dan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Kristus yang adalah pokok dari iman itu sendiri.Bayangkan seorang pasien yang datang ke dokter. Ia menerima diagnosis (notitia), ia menyetujui bahwa diagnosis itu benar dan ia memang sakit (ascensus), dan ia mempercayakan dirinya untuk menjalani pengobatan yang diresepkan (fiducia). Ketiga hal ini tidak bisa dipisahkan. Pasien yang hanya tahu diagnosisnya tetapi tidak menyetujuinya tidak akan berobat. Pasien yang menyetujui diagnosisnya tetapi tidak mempercayakan dirinya kepada dokter tidak akan disembuhkan. Demikian pula iman kita kepada Kristus.Hari ini, mari kita bertanya dengan jujur di hadapan Tuhan: Iman seperti apa yang aku miliki? Apakah imanku berakar pada pengenalan akan Kristus yang benar, atau hanya sebatas kebiasaan dan perasaan? Apakah aku hanya tahu tentang Yesus, atau benar-benar mengenal-Nya? Apakah aku menyetujui kebenaran Injil hanya di kepala, atau sudah merangkulnya di hati? Dan yang paling dalam—apakah aku sudah mempercayakan seluruh hidupku kepada-Nya? Sepanjang minggu ini, kita akan menjelajahi ketiga elemen ini satu per satu—bukan untuk mengukur iman orang lain, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengkalibrasi iman kita sendiri di hadapan Tuhan yang melihat hati. -Dan

Bacaan Alkitab
Mazmur 131, 138-139, 143-145