ASCENSUS: MENYETUJUI DAN MENGAKUI KEBENARAN
dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
(Yohanes 8:32)
Mengetahui isi Injil saja tidak cukup. Ini adalah salah satu kebenaran yang paling sering diabaikan dalam kehidupan orang Kristen. Banyak orang tahu fakta sejarah bahwa Yesus mati di kayu salib. Banyak orang tahu bahwa Alkitab mengajarkan kasih. Banyak orang tahu bahwa ada surga dan neraka. Tetapi pengetahuan itu, betapapun benarnya, tidak mengubah hidup mereka. Mengapa? Karena mereka berhenti pada notitia dan tidak pernah melangkah ke ascensus. Ascensus adalah langkah berikutnya: menyetujui, merangkul, dan mengakui bahwa kebenaran Injil itu benar—bukan hanya benar secara umum sebagai fakta yang menarik, tetapi benar bagiku. Ini adalah perpindahan dari “Yesus adalah Juruselamat dunia” menjadi “Yesus adalah Juruselamatku.” Ini adalah momen ketika kita berhenti menjadi penonton dan mulai menjadi peserta. Ini adalah saat ketika kebenaran berhenti menjadi sekadar informasi dan mulai menjadi transformasi. Bayangkan seseorang yang membaca resep obat yang menyembuhkan penyakitnya. Ia mengenali nama obatnya (notitia). Ia bahkan mungkin membaca artikel tentang obat itu, memahami cara kerjanya, dan mengagumi kecanggihannya. Tetapi selama ia tidak menyetujui bahwa obat itu memang untuknya dan ia membutuhkannya, ia tidak akan pernah meminumnya. Pengetahuan tanpa persetujuan tidak menyembuhkan. Demikian pula, kita bisa tahu bahwa Kristus adalah obat bagi dosa, tetapi jika kita tidak mengakui bahwa kita adalah orang berdosa yang membutuhkan obat itu, kita tidak akan pernah datang kepada-Nya. Ascensus melibatkan pikiran dan hati yang tunduk pada otoritas firman Tuhan. Ini bukan sekadar persetujuan intelektual yang dingin—seperti seorang filsuf yang mengakui kebenaran sebuah proposisi. Ini adalah pengakuan yang rendah hati di hadapan Allah, seperti pemungut cukai yang berdiri jauh dan tidak berani menengadah ke langit, tetapi memukul dadanya dan berkata, “Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini” (Lukas 18:13). Ini adalah pengakuan Petrus: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16). Ini adalah pengakuan Tomas: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28). Tanpa ascensus, iman kita berhenti sebagai informasi; dengan ascensus, kebenaran mulai meresap ke dalam hidup kita dan memerdekakan kita. Yesus berkata, “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Perhatikan bahwa kebenaran yang memerdekakan bukanlah kebenaran yang hanya diketahui, tetapi kebenaran yang diketahui, disetujui, dan diakui. Kebenaran yang kita rangkul akan mengubah kita. Kebenaran yang kita setujui akan membebaskan kita dari belenggu dosa, dari tipu daya iblis, dari penjara rasa bersalah. Hari ini, mari kita bertanya: apakah aku sudah tidak hanya tahu tentang Yesus, tetapi benar-benar mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamatku? -Dan
Bacaan Alkitab
Mazmur 111-118
