FIDUCIA: MEMPERCAYAKAN DIRI SEPENUHNYA

namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
(Galatia 2:20)

Fiducia bukan hanya mengetahui isi Injil (notitia), bukan hanya menyetujui kebenarannya (ascensus), tetapi bersandar total pada Kristus. Kata ‘percaya’ dalam Perjanjian Baru (pisteuo) mengandung makna mempercayakan—seperti seseorang yang duduk di kursi dan menyerahkan seluruh berat tubuhnya pada kursi itu. Ia tidak setengah duduk, tidak ragu-ragu; ia menyerahkan seluruh beratnya. Banyak orang Kristen berhenti pada ascensus. Mereka tahu Injil, mereka mengakui kebenarannya, mereka bahkan mungkin aktif di gereja. Tetapi hidup mereka masih dikendalikan oleh kekuatiran, ambisi pribadi, dan keinginan daging. Mereka percaya bahwa Yesus menyelamatkan mereka dari dosa, tetapi mereka tidak mempercayakan hidup mereka kepada-Nya. Mereka masih memegang kendali atas hidup mereka sendiri, masih mengandalkan kekuatan sendiri, masih khawatir tentang masa depan seolah-olah Tuhan tidak memegang kendali. Fiducia mengubah segalanya. Ia berkata bersama Paulus, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; aku hidup, tetapi bukan aku lagi yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Fiducia bukan hanya percaya bahwa Yesus menyelamatkan, tetapi mempercayakan seluruh hidup kepada-Nya—masa depan, keuangan, keluarga, pekerjaan, kesehatan, bahkan kematian kita. Ini adalah penyerahan yang total, seperti Abraham yang meninggalkan negerinya tanpa tahu ke mana ia pergi (Ibrani 11:8), seperti Rut yang berkata kepada Naomi, “Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku” (Rut 1:16), seperti Maria yang berkata, “Aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu” (Lukas 1:38). Iman yang sehat harus sampai di sini. Kalau tidak, kita hanya menjadi ahli teologi tanpa kuasa, orang yang mengenal jalan tetapi tidak pernah berjalan, orang yang tahu tentang air hidup tetapi tidak pernah meminumnya. Yesus tidak mengundang kita untuk sekadar mengagumi-Nya dari jauh; Ia mengundang kita untuk datang kepada-Nya, untuk bersandar pada-Nya, untuk menyerahkan beban kita kepada-Nya. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Hari ini, mari kita periksa dengan jujur: apakah ada area hidup yang masih kita pegang erat dan belum kita percayakan kepada Kristus? Apakah ada ketakutan yang masih menguasai kita? Apakah ada rencana yang masih kita kendalikan sendiri? Fiducia berarti melepaskan semuanya dan berkata, “Tuhan, bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mulah yang jadi.” Ini bukan penyerahan yang pasif, tetapi penyerahan yang aktif—penyerahan yang percaya bahwa Tuhan yang memegang kendali adalah Tuhan yang baik, yang mengasihi kita, yang telah menyerahkan Anak-Nya sendiri untuk kita. -Dan

Bacaan Alkitab
1 Raja-raja 1-2, Mazmur 37, 71, 94