MODE BERTAHAN HIDUP ORANG KRISTEN:
PERCAYA ALLAH TURUT BEKERJA
“Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik. Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai, jika diceritakan. Sebab, sesungguhnya, Akulah yang membangkitkan orang Kasdim, bangsa yang garang dan tangkas itu, yang melintasi lintang bujur bumi untuk menduduki tempat kediaman, yang bukan kepunyaan mereka.”
(Habakuk 1:2-6)
Mahasiswa dengan dinamika dan harapan besarnya, ternyata menyimpan kisah yang jarang terungkap: tekanan akademik yang tinggi dapat memperburuk tidak hanya fisik, tetapi juga mental, bahkan ada yang melakukan tindakan bunuh diri. Bunuh diri sering kali disebabkan oleh tekanan mental yang berat. Data menunjukkan bahwa bunuh diri menempati posisi kedua penyebab kematian usia muda, yaitu usia 15-29 tahun, termasuk mahasiswa (kompasiana.com). Realitas tersebut menegaskan betapa rapuh dan terbatasnya kekuatan atau daya tahan manusia menghadapi masalah dan tekanan hidup. Bagaimana respons kita ketika menghadapi berbagai tekanan dalam hidup? Bagaimana agar bisa bertahan menghadapi berbagai persoalan hidup?
Perlu diketahui, sejak matinya Raja Yosia, keadaan Yehuda semakin buruk. Habakuk mulai melayani sekitar tahun 605 SM, pada masa pemerintahan Raja Yoyakim (609-597 SM). Karena tidak mau membayar upeti, maka Babel menyerang dan Yoyakim mati. Lalu diganti oleh Yoyakin (anaknya) tahun 597 SM. Babel kembali mengepung dan mengalahkan Yoyakin, serta membawanya sebagai tawanan ke Babel. Selanjutnya Zedekia menjadi raja Yehuda (597-586 SM). Karena tidak mau membayar upeti, maka Babel kembali menyerang, membakar seluruh kota, menjarah dan membakar Bait Suci, serta membawa penduduknya sebagai tawanan. Anak-anak Zedekia dibunuh di depan Zedekia, mata Zedekia dicungkil dan dibawa ke Babel. Habakuk mungkin hidup sepanjang sebagian besar atau seluruh masa hukuman Yehuda. Bisa dibayangkan betapa sedih, sulit, dan penuh penderitaan situasi yang dihadapi Habakuk dan bangsa Israel.
Habakuk berseru sampai berapa lama ketidakadilan, kejahatan, penindasan, kekerasan, dan berbagai penderitaan harus kami alami? Tetapi seolah Tuhan diam. Meski kadang seolah Tuhan “diam”, membiarkan kefasikan menang, kesulitan dan penderitaan harus dialami, Habakuk diajar untuk percaya, bahwa Allah yang ada di tempat kudus-Nya, adalah Allah yang berdaulat, adil, berkuasa, dan setia pada janji-Nya. Ia sedang bekerja dengan cara-Nya, yang kadang penuh misteri. Meskipun dalam hidup ini sering kali kita menghadapi hal-hal yang penuh misteri, namun melalui kitab Habakuk kita diajar untuk melihat dan belajar tetap percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28).
Doa dan komitmen: Tuhan, meski hidup ini kadang penuh misteri, ajar kami selalu percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala perkara. (Mas Git)
Bacaan Alkitab
Rut 1-4
