DOA BAGI NEGERI: MENJADI PENJAGA DALAM DOA

“Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan kumusnahkan, tetapi aku tidak menemuinya”
(Yehezkiel 22:30).

Ketika sebuah bangsa menghadapi berbagai persoalan, sering kali orang bertanya, “Siapa yang harus bertindak?” Sebagian orang berharap pemimpin yang berubah. Sebagian lagi berharap sistem yang diperbaiki. Ada juga yang menantikan munculnya tokoh-tokoh yang mampu membawa perubahan. Semua itu memang penting. Namun firman Tuhan hari ini menunjukkan sesuatu yang sering kali terlupakan. Tuhan mencari seseorang yang mau berdiri di hadapan-Nya bagi negeri itu. Gambaran yang digunakan Yehezkiel sangat menarik. Tuhan mencari seorang yang “mendirikan tembok” dan “mempertahankan negeri.” Ini bukan pertama-tama berbicara tentang pembangunan fisik, melainkan tentang seseorang yang mengambil posisi sebagai pendoa syafaat. Di dalam Alkitab, beberapa kali kita melihat orang-orang yang berdiri di hadapan Tuhan bagi bangsanya. Musa berdoa bagi Israel ketika mereka berdosa. Daniel berdoa bagi bangsanya di tengah pembuangan. Nehemia menangis dan berdoa bagi Yerusalem. Mereka tidak memegang seluruh solusi atas persoalan bangsa, tetapi mereka mengambil bagian dengan datang kepada Tuhan.

Hari ini Tuhan tidak memanggil semua orang menjadi pejabat, pemimpin politik, atau tokoh masyarakat. Namun Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk menjadi penjaga dalam doa. Sayangnya, banyak orang lebih suka menjadi pengamat daripada pendoa. Kita mudah melihat kesalahan bangsa, tetapi lambat berlutut bagi bangsa. Kita cepat membicarakan keadaan negeri, tetapi sedikit waktu yang kita pakai untuk mendoakannya. Padahal salah satu pelayanan terbesar yang dapat dilakukan orang percaya adalah berdiri di hadapan Tuhan bagi negerinya.Mungkin tidak ada yang melihat ketika kita berdoa. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada penghargaan. Namun di hadapan Tuhan, doa umat-Nya memiliki nilai yang sangat besar. Sepanjang minggu ini kita telah belajar bahwa Tuhan memanggil kita untuk mendoakan negeri.

Bukan karena negeri ini sempurna. Bukan karena kita selalu melihat hasilnya. Bukan karena kita memiliki kedudukan tertentu. Tetapi karena Tuhan telah menempatkan kita di negeri ini dan memanggil kita untuk menjadi alat-Nya. Kiranya tema minggu ini tidak berhenti sebagai bahan renungan semata. Biarlah Tuhan membangkitkan semakin banyak orang percaya yang setia menjadi penjaga dalam doa bagi bangsa, kota, gereja, keluarga, dan generasi yang akan datang. Karena sejarah sering kali diubah bukan hanya oleh mereka yang berdiri di depan publik, tetapi juga oleh mereka yang setia berlutut di hadapan Tuhan. 

Refleksi: Jika Tuhan mencari seseorang yang mau berdiri bagi negeri ini dalam doa, apakah saya bersedia menjadi orang itu? Apakah mendoakan bangsa sudah menjadi bagian dari kehidupan rohani saya, atau hanya saya lakukan ketika ada masalah besar terjadi?

Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau telah menempatkan kami di negeri ini. Ampuni kami jika kami lebih banyak mengeluh daripada berdoa. Bentuklah kami menjadi umat yang setia berdiri di hadapan-Mu bagi bangsa kami. Pakailah doa-doa kami untuk mendatangkan damai sejahtera, kebenaran, dan kemuliaan nama-Mu di negeri ini. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. (Yun).

Bacaan Alkitab
Ulangan 14-16