KETAATAN YANG MEMBEBASKAN, BUKAN MEMBELENGGU
“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan kasih.”
(Galatia 5:13)
Banyak orang ragu untuk melangkah lebih dalam ke dalam pelayanan karena satu ketakutan besar: kehilangan kebebasan. Ada anggapan bahwa menjadi pelayan Tuhan berarti hidup akan penuh dengan daftar “jangan” yang panjang, jadwal yang kaku, dan tuntutan moral yang mencekik. Kita takut pelayanan akan menjadi “tembok penjara” yang membatasi kesenangan dan privasi kita.
Namun, coba kita renungkan: Apakah kebebasan berarti melakukan apa saja yang kita mau? Seringkali, saat kita melakukan “sesuka hati”, kita justru terjebak dalam kecanduan, egoisme kita, dan kehampaan. Itu bukanlah kemerdekaan, melainkan perbudakan gaya baru. Kristus memerdekakan kita bukan agar kita menjadi liar tanpa arah, melainkan agar kita bebas dari penjara diri sendiri yaitu (ego). Sebelum mengenal kasih-Nya, kita melayani ambisi diri kita sendiri. Namun, di surat Galatia 5:13 yang dituliskan oleh Paulus mengingatkan kepada kita bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika kita cukup kuat dan cukup bebas untuk meletakkan kepentingan kita demi orang lain. Pelayanan bukanlah beban yang ditambahkan ke pundak kita, melainkan saluran keluar bagi rasa syukur atas kemerdekaan yang sudah kita terima.
Lalu timbul sebuah pertanyaan, Apa bedanya budak dan seorang kekasih?
- Seorang budak melakukan tugas karena kewajiban dan takut akan hukuman, hal tersebut dapat dikatakan sebuah belenggu.
- Sedangkan seorang kekasih melakukan tugas karena keinginan untuk menyenangkan hati yang dicintainya, itu adalah sebuah ekspresi
Jika dasarnya adalah hukum atau “supaya terlihat suci”, pelayanan akan terasa sangat berat. Namun, jika dasarnya adalah kasih, maka setiap tetesan keringat dan waktu yang terpakai tidak akan terasa seperti belenggu. Itu menjadi sebuah privilege atau hak istimewa. Kita menaati Tuhan bukan karena kita harus, tapi karena kita mau.
Sebuah kebebasan tanpa tujuan seperti layang-layang yang putus benangnya. Ia memang bebas terbang kemana saja, tapi akhirnya akan jatuh di selokan atau tersangkut di pohon – tak berdaya. Pelayanan adalah “benang” yang menjaga hidup kita tetap terarah dan terbang tinggi di atas egoisme. Tanpa pengabdian kepada Tuhan dan sesama, kebebasan kita hanya akan menghancurkan diri kita sendiri.
Refleksi:
Apakah saat ini kamu merasa “terbeban” dengan aturan agama? Mintalah Tuhan untuk mengubah sudut pandangmu: dari “harus melayani” menjadi “bersyukur karena boleh melayani.” Ingatlah, ketaatan kepada Kristus tidak pernah bertujuan memenjarakanmu; ia justru membebaskanmu dari kekosongan hidup yang berpusat pada diri sendiri. (Ir)
Doa: seringkali kami takut untuk melangkah dalam dunia pelayanan karena kami merasa bahwa kami tidak mampu, kami tidak memiliki talenta disana dan banyak alasan lainnya, akan tetapi ketika kami memandang Engkau sebagai Allah kami, maka seharusnya kami siap dan mau melayani-Mu, terimakasih Tuhan di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Bacaan Alkitab
Habakuk 1-3
