MENGHADIRKAN SHALOM MELALUI SIKAP HIDUP

“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.”
(Roma 12:18)

Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Tidak semua pertengkaran dimulai karena persoalan besar, tetapi sering kali karena tidak ada seorang pun yang mau mengalah.” Kalimat ini menggambarkan kehidupan kita saat ini. Banyak hubungan menjadi renggang bukan karena persoalan yang tidak dapat diselesaikan, tetapi karena setiap orang ingin mempertahankan pendapatnya sendiri. Di tengah keluarga, gereja, bahkan media sosial, orang lebih cepat bereaksi daripada memahami. Akibatnya, damai sering kali hilang bukan karena perbedaan, melainkan karena sikap hati.

Rasul Paulus memahami bahwa hidup bersama tidak pernah lepas dari perbedaan. Karena itu, ketika ia menulis kepada jemaat di Roma, ia tidak berkata bahwa orang percaya harus hidup tanpa konflik. Sebaliknya, ia menuliskan, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” Kalimat “sedapat-dapatnya” menunjukkan bahwa Paulus berbicara secara realistis. Tidak semua orang akan menerima usaha kita untuk berdamai. Tidak semua hubungan dapat dipulihkan hanya oleh satu pihak. Namun, sebagai pengikut Kristus, kita tetap bertanggung jawab atas sikap hidup kita sendiri.

John Stott pernah mengatakan bahwa orang Kristen dipanggil bukan hanya menikmati damai dengan Allah, tetapi juga menjadi pembawa damai di tengah dunia. Damai yang Tuhan berikan kepada kita seharusnya mengubah cara kita memperlakukan orang lain. Karena itu, menghadirkan shalom bukan berarti selalu menang dalam setiap perdebatan, tetapi bersedia mengalahkan ego demi memelihara hubungan yang Tuhan percayakan. Kita mungkin tidak dapat mengubah sikap semua orang, tetapi kita dapat memilih untuk tidak membalas kebencian dengan kebencian, tidak memperkeruh keadaan, dan tetap menunjukkan kasih Kristus.

Hari ini kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah sikap hidupku sedang menghadirkan shalom atau justru memperpanjang konflik? Selama hal itu masih bergantung padaku, kiranya Tuhan menolongku untuk memilih jalan damai, sehingga melalui hidupku orang lain dapat melihat karakter Kristus, Sang Sumber Shalom Tuhan  membentuklah hidup kami.

Doa:Tuhan, bentuklah sikap hidupku agar semakin serupa dengan hati-Mu.Pakailah hidupku untuk menghadirkan shalom-Mu di mana pun Engkau menempatkanku. Amin.(Cgm)

Bacaan Alkitab
Yosua 9-11