IMAN YANG SEIMBANG: KETIKA KETIGANYA BERTUMBUH BERSAMA
Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
(Kolose 2:6-7)
Hari ini kita merenungkan bahaya yang sering tidak disadari—bahaya ketika salah satu elemen iman ditekankan secara berlebihan dan yang lain diabaikan. Ketiganya harus bertumbuh bersama, seperti akar, batang, dan buah dari satu pohon yang sama. Ketika salah satu elemen mendominasi, iman kita menjadi timpang, dan iman yang timpang cepat atau lambat akan runtuh. Jika hanya notitia yang ditekankan, lahirlah ortodoksi tanpa kasih—orang yang bangga akan pengetahuannya, gemar berdebat teologi, hafal ayat-ayat, tetapi hatinya dingin dan hidupnya tidak berbuah. Ini adalah iman para ahli Taurat yang mengenal Kitab dengan luar biasa tetapi menolak Kristus yang adalah inti dari Kitab itu. Ini adalah iman yang mengukur spiritualitas dari seberapa banyak buku teologi yang dibaca, bukan dari seberapa dalam kasih kepada Tuhan dan sesama. Paulus memperingatkan, “Pengetahuan membuat orang sombong, tetapi kasih membangun” (1 Korintus 8:1). Iman tanpa kasih adalah iman yang mati. Jika hanya ascensus yang ditekankan, lahirlah emosionalisme dangkal—orang yang mudah tersentuh oleh khotbah dan musik, mengaku percaya segala hal, tetapi tidak berakar dan tidak bertumbuh. Iman seperti ini mudah goyah ketika pencobaan datang, karena tidak dibangun di atas pengenalan yang benar. Yesus menggambarkan orang seperti ini sebagai benih yang jatuh di tanah berbatu: “Ia segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia” (Matius 13:5-6). Iman yang hanya berdasarkan perasaan akan bertahan selama perasaan itu menyenangkan, tetapi akan runtuh ketika perasaan itu berubah.Jika hanya fiducia yang ditekankan tanpa notitia dan ascensus, lahirlah mistikisme dan antinomianisme—orang yang mengaku “percaya saja” tetapi tidak peduli pada kebenaran doktrin, sehingga mudah disesatkan oleh setiap angin pengajaran. Mereka mengabaikan firman Tuhan dengan alasan “yang penting percaya,” padahal iman yang sejati selalu berakar pada firman. Tanpa notitia dan ascensus, fiducia menjadi lompatan ke dalam kegelapan, bukan lompatan ke dalam tangan Kristus yang terpercaya. Paulus menasihati jemaat Kolose dengan tiga gambaran pertumbuhan yang seimbang: berakar, dibangun, dan bertambah teguh. Akar menunjukkan kedalaman—notitia yang mengakar dalam firman. Dibangun menunjukkan struktur—ascensus yang menopang hidup. Bertambah teguh menunjukkan pertumbuhan—fiducia yang semakin dalam seiring waktu. Iman yang sehat bukanlah iman yang timpang, melainkan iman yang memuliakan Allah dengan pikiran, hati, dan seluruh hidup. Marilah kita bertumbuh seimbang, sehingga tidak ada area dalam hidup kita yang tidak tersentuh oleh Injil.
-Dan
Bacaan Alkitab
Mazmur 119
