SEJAHTERA DI TENGAH BENCANA

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu, dan janganlah kamu dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan!  Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku. Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN. Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,  Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kucerai-beraikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu.
(Yeremia 29:7-14)

Bencana, baik itu bencana alam, krisis ekonomi, maupun tragedi pribadi, sering kali membuat kita merasa kehilangan arah. Dalam kondisi terpuruk, pertanyaan yang muncul biasanya adalah: “Di mana Tuhan?” atau “Kapan ini berakhir?” ​Situasi serupa dialami bangsa Israel di Babel. Mereka kehilangan bait Allah, tanah air, dan kemerdekaan mereka. Mereka sedang berada dalam “bencana” pembuangan. Namun, di tengah reruntuhan harapan itu, firman Tuhan datang melalui Yeremia dengan pesan yang mengejutkan: Sejahtera tidak harus menunggu bencana usai.

Ada beberapa aspek yang perlu dilihat lebih dalam tentang situasi bencana: Pertama, Sejahtera Melalui Penerimaan dan Kontribusi (Ayat 7); ​Tuhan tidak menyuruh bangsa Israel untuk memberontak melawan Babel atau sebaliknya, terus-menerus meratapi diri. Sebaliknya, Ia menyuruh mereka “mengusahakan kesejahteraan kota pembuangan.” Sejahtera dimulai ketika kita berhenti menolak realitas pahit dan mulai bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi berkat di sini?” Di tengah bencana, kita dipanggil bukan untuk menjadi egois dan menyelamatkan diri sendiri, melainkan menjadi agen berkat. Saat kita memberkati tempat di mana kita “dibuang” atau menderita, di situlah kesejahteraan kita ditemukan.

Kedua, Sejahtera Berdasarkan Janji, Bukan Situasi (Ayat 10-11); ​Babel adalah tempat yang buruk, tetapi janji Tuhan tetap baik. Ayat 11 menegaskan bahwa rancangan Tuhan adalah Damai Sejahtera (Shalom), bukan kecelakaan. Kesejahteraan Kristen tidak bersifat situasional (tergantung keadaan), melainkan posisitional (tergantung siapa yang memegang masa depan kita). ​Bencana mungkin mengubah rencana hidup kita, tetapi bencana tidak bisa mengubah rencana Tuhan bagi kita. Masa depan yang penuh harapan itu tetap ada, meski saat ini kita hanya melihat tembok-tembok Babel. Ketiga, Sejahtera Melalui Intimitas dalam Doa (Ayat 12-13); ​Tuhan berjanji: “Apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa… Aku akan mendengarkan.” Sejahtera yang sejati muncul dari kehadiran Tuhan, bukan sekadar hilangnya masalah. Bencana sering kali menjadi “padang gurun” di mana suara Tuhan terdengar paling jelas. ​

Tuhan mengizinkan kesulitan agar kita mencari-Nya dengan segenap hati. Saat kita menemukan Tuhan di tengah bencana, kita menemukan sumber damai yang melampaui segala akal. Itulah sejahtera yang tidak bisa dicuri oleh bencana apa pun. Ketiga hal di atas mengajarkan bahwa ​Bencana mungkin membuang kita ke tempat yang tidak kita inginkan, namun ia tidak bisa menjauhkan kita dari kasih Allah. Sejahtera di tengah bencana terjadi ketika: ​Kita mau menjadi berkat di tempat yang sulit. ​Kita percaya pada rancangan Tuhan di atas logika manusia. ​Kita mencari wajah-Nya. (Ant)

 

Bacaan Alkitab
Yehezkiel 15-16