BERDOA BAGI KOTA

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu, dan janganlah kamu dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan!  Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku. Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN. Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,  Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kucerai-beraikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu.
(Yeremia 29:7-14)

Seorang rohaniawan dari Skotlandia bernama Erick Alexander pernah berkata tentang doa dan gereja. Dia berkata bahwa Doa bukanlah hanya sebuah faktor untuk mendukung kegiatan atau pelayanan di gereja saja, karena baginya doa itu adalah inti dari pelayanan gereja. Dengan kata lain gereja yang melayani adalah gereja yang berdoa. Jika doa tidak sekedar dipahami dengan kata-kata, maka Yeremia memperkenalkan doa sebagai tanggung jawab spiritual dan sebuah bentuk tindakan ketaatan walaupun mengalami problem dan dalam kondisi yang sulit sekalipun. Kita tahu dengan baik bahwa pada waktu Yeremia menuliskan bagian ini, bangsa Israel sedang berada dalam pembuangan di Babel. Dan disinilah Tuhan menginginkan Yeremia mengajarkan kepada bangsa Israel aspek doa yang baru yakni bahwa mereka dipanggil juga menjadi bangsa yang peduli terhadap lingkungan walaupun mereka sendiri sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.

Kepedulian yang bukan hanya kepada mereka yang telah berbuat baik kepadanya tetapi juga kepedulian bagi mereka yang telah berlaku jahat dan keji terhadap mereka. “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN…” perkataan Tuhan ini juga mengajarkan bahwa mereka akan dijadikan alat-Nya Tuhan untuk memberkati orang lain. Bahkan jika itu adalah musuh dan tempat yang menjadi sumber kesengsaraan hidup kita, Allah tetap menuntut kita peduli terhadap mereka.

Ketika kita peduli maka kepedulian itu juga tidak dipahami sebagai alat untuk menyuap Tuhan untuk mendatangkan berkat dan hal-hal yang baik kepada diri melainkan bentuk aktif kita melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan atas kita. Sehingga jika kita perhatikan selanjutnya di ayat 11, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu…” maka doa itu dipahami harus lebih dalam kepada aspek bahwa doa sebagai respon terhadap rancangan Tuhan. Doa menjadi semacam tindakan sadar dan aktif manusia untuk menyelaraskan diri dengan rencana Allah yang penuh dengan damai sejahtera, bukan kecelakaan.

Sedemikian seharusnya doa dipahami tidak hanya bicara tentang diri tapi juga outsider. Doa menuntut hati yang penuh dan total bersandar pada Allah dan bukan setengah-tengah. Doa juga bicara tentang iman yang dahsyat yang mempercayai Tuhan dalam segala aspek termasuk ketika kita sedang dalam kondisi dan waktu yang tidak baik. Seberapa dalam Anda memahami doa dikenali juga seberapa dalam Anda berdoa bagi kota dimana Anda berada, sehingga damai sejahtera Allah hadir disana. (Ant)

Bacaan Alkitab
Yehezkiel 13-14