BUKAN TENTANG KEMAMPUAN, TAPI KEWAJIBAN

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab di dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”
(2 Korintus 12:9)

Banyak dari kita sering berkata, “Tuhan, saya tidak mampu,” atau “Cari orang lain saja yang lebih ahli.” Kita terjebak dalam pola pikir bahwa pelayanan atau tugas hidup bergantung sepenuhnya pada kapasitas diri sendiri. Namun, Rasul Paulus memberikan perspektif yang mengejutkan: Kelemahan bukanlah penghalang bagi Tuhan; itu justru adalah panggung bagi kuasa-Nya. Tuhan tidak memanggil orang yang mampu; Dia memampukan orang yang terpanggil. Ketika kita memandang tugas sebagai sebuah kewajiban (ketaatan), kita tidak lagi berfokus pada isi dompet, tingkat kecerdasan, atau kekuatan fisik kita, melainkan pada kesetiaan Allah yang mengutus kita.

Ada sebuah ilustrasi tentang “Pensil di Tangan Sang Penulis”

Bayangkan sebuah pensil yang patah dan tumpul. Jika pensil itu bisa berpikir, ia mungkin akan berkata, “Aku tidak dapat menulis sebuah puisi yang indah, karena aku sudah rusak dan tidak berguna lagi.” Namun, di tangan seorang penulis yang tepat, pensil yang patah itu diruncing kembali. Meski proses peruncingan itu menyakitkan, sang penulis tetap menggunakannya untuk menulis karya yang luar biasa. Keindahan tulisan itu bukan karena kualitas kayu si pensil, melainkan karena tangan yang memegangnya. Begitu juga dengan kita. Kita mungkin merasa “patah” atau terbatas, tetapi kewajiban kita hanyalah membiarkan diri berada di tangan Sang Penulis Agung.

Bagaimana kita menghidupi prinsip tersebut dalam keseharian hidup kita?

  • Berhenti Mengandalkan sebuah Alasan: Jangan jadikan kekurangan (ekonomi, latar belakang, atau talenta) sebagai tameng untuk menghindari tanggung jawab yang Tuhan berikan.
  • Ubah Pertanyaan: hindari bertanya, “Apakah aku mampu?”, tetapi mulailah bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan hari ini?”
  • Bersandar pada Kasih Karunia: Saat merasa lelah atau gagal, ingatlah bahwa Kasih Karunia + Kelemahan Kita = Kuasa Tuhan. Akui kelemahan kita di hadapan-Nya agar kekuatan Kristus menaungi kita. Kewajiban kita adalah ketaatan, sedangkan kemampuan adalah bagian yang akan Tuhan kerjakan. Jangan menunggu sampai Anda merasa “sempurna” untuk melayani atau melakukan kebaikan, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. (Ir)

Doa: Bapa kami sadar bahwa kami memiliki keterbatasan di dalam melayani-Mu, untuk itu kami memintakan penyertaan dan pertolongan Tuhan, di dalam mempukan kami melayani-Mu.

Bacaan Alkitab
Mikha 4-7