YANG PALING MUDA
Namun, kamu janganlah demikian. Yang
terbesar di antara kamu hendaklah menjadi
seperti yang paling muda …
(Lukas 22:26, TB2)
Dalam budaya Tionghoa, seorang yang sangat dihormati, sekalipun usianya masih muda, bisa dipanggil dengan sebutan: kakak tertua (大哥 dàgē), paman (叔叔 shūshu), paman tua (伯伯 bóbo); bahkan jika figur itu sangat dihormati, ia bisa dipanggil kakek (爷爷 yéye). Maka makin tua sebutan itu disematkan kepada seseorang, makin tinggi statusnya, makin besar pengaruhnya dan ia tentu menerima lebih banyak penghormatan dan pelayanan dari strata. Bukan itu yang Tuhan Yesus kehendaki bagi murid-Nya.
Dalam tata krama masyarakat hampir di semua kebudayaan, orang yang muda sudah sewajarnya melayani orang yang lebih tua. Demikian halnya dalam budaya pada zaman Tuhan Yesus. Yang muda melayani bukan hanya sebagai sopan santun, tetapi yang muda menduduki status sosial terendah, tidak punya hak bicara, dan harus tunduk total. Maka, dalam hal ini Tuhan Yesus mengajar para murid untuk turun ke level yang rendah. Menjadi yang terbesar bukan ditunjukkan dari seberapa berpengaruh kita untuk mempengaruhi orang lain melaksanakan keinginan kita. Seberapa besar kita ditunjukkan dari seberapa hebat dan sukses kita sehingga orang menghormati kita. Sebaliknya, menjadi yang terbesar dalam kerajaan Allah berarti memiliki sikap seperti seorang yang paling muda, yang mau melayani orang-orang lain, yang sadar akan posisinya yang rendah dan kewajibannya untuk tunduk secara total. Sikap itulah yang Tuhan Yesus tunjukkan.
Ia yang adalah Tuhan Sang Pencipta merendahkan diri-Nya menjadi sama dengan manusia yang adalah makhluk ciptaan. Ia mengambil rupa seorang hamba, Ia menaati apa yang sudah Allah Bapa tetapkan untuk Ia lakukan. Mari kita melayani Tuhan dengan belajar merendahkan diri untuk saling melayani sesama kita. -VA
Seperti Yesus yang penuh rahmat, yang lemah lembut dan rendah hati. Kumau tinggikan Tuhanku yang mulia, ‘ku dikuduskan, taat perintah-Mu.
(Charles H. Gabriel)
Bacaan Alkitab
Hagai 1-2
