BELAJAR SALING MENERIMA DALAM KRISTUS
Sebab itu terimalah satu sama lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.
(Roma 15: 5-7)
Secara garis besar, Roma 15:1–13 membahas tentang hidup dalam kesatuan melalui sikap saling menanggung, saling menerima, dan memuliakan Allah bersama-sama, khususnya di tengah perbedaan iman, latar belakang, dan kekuatan rohani. Di perikop ini, rasul Paulus mengedepankan tentang orang kuat dan orang lemah. Rasul Paulus memberikan petunjuk bagaimana keharmonisan antar anggota tubuh Kristus itu bisa dijaga dan akan berdampak besar dalam pekerjaan misi di dunia.
Dari ayat 1-3, kita bisa menemukan tentang cara menjaga harmoni dalam tubuh Kristus yaitu yang kuat menanggung yang lemah, bukan menyenangkan diri. Di sini rasul Paulus mengingatkan agar jangan egois, jangan memaksakan kebebasan pribadi dan utamakan untuk membangun orang lain. Cara hidup seperti ini adalah cara hidup yang berkenan dan mempermuliakan nama Tuhan di mana anggota tubuh Kristus bukan sekadar rukun, tapi ibadah bersama yang harmonis sehingga menghasilkan penyembahan yang kuat. Harmoni yang terbangun ini menjadi kesaksian misi sehingga bangsa-bangsa dimungkinkan untuk memuliakan Allah (15: 9). Kunci keberhasilan harmoni terletak pada ayat 7 yang berbunyi “Sebab itu terimalah satu sama lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.”
Perikop Roma 15:5–7 menutup ajaran Paulus dengan sebuah doa sekaligus panggilan hidup: supaya jemaat sehati, satu suara, dan saling menerima seperti Kristus telah menerima mereka. Artinya, harmoni bukan sekadar suasana damai tanpa konflik, tetapi buah dari kasih yang rela berkorban, menanggung, dan membuka ruang bagi yang berbeda.
Pada akhirnya, kesatuan gereja tidak diuji saat semua sama, tetapi justru saat kita berbeda. Di situlah Injil menjadi nyata. Kristus tidak menunggu kita sempurna baru menerima kita; Ia menerima lebih dahulu, memulihkan, lalu mempersatukan. Karena itu, setiap kali kita memilih memahami daripada menghakimi, menolong daripada menuntut, dan merangkul daripada menjauh, kita sedang mempraktikkan Injil yang hidup.
Gereja yang saling menerima akan menjadi kesaksian yang paling keras suaranya bagi dunia.
Ketika kita hidup harmonis di dalam Kristus, dunia bukan hanya mendengar tentang kasih Allah — mereka melihatnya nyata melalui hidup kita. (Jho)
