TEOLOGI RUANG: TUHAN YANG MELAMPAUI TEMBOK

Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, 
(Kisah Para Rasul 17:24)

Masih ingat topik kita, bagaimana Paulus mengamati dan mencari jembatan untuk berbicara tentang Injil. Hari ini, kita masuk ke inti pesan Paulus yang sangat radikal bagi orang Athena, dan juga bagi kita saat ini. ​Di Athena, setiap dewa punya “rumah”-nya masing-masing. Jika Anda ingin berurusan dengan dewa laut, Anda pergi ke kuil Poseidon. Jika ingin sukses dalam perang, Anda ke kuil Ares. Tuhan bagi mereka adalah Tuhan yang terkurung dalam tembok-tembok bangunan suci. Namun, Paulus berdiri dan memproklamirkan sebuah kebenaran besar di ayat 24: “Allah yang telah menjadikan dunia dan segala isinya… tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia.” ​Inilah yang kita sebut sebagai Teologi Ruang bahwa Tuhan adalah Pemilik seluruh ruang. ​Paulus memulai dengan dasar yang kokoh: “Allah yang telah menjadikan dunia dan segala isinya.” Artinya di awal proklamasi injil Paulus memperkenalkan Allah yang menciptakan ruang, maka tidak ada ruang yang bisa mengurung-Nya. ​Seringkali, tanpa sadar kita bertingkah seperti orang Athena. Kita merasa Tuhan hanya “diam” di dalam gereja pada hari Minggu. Kita merasa hanya bisa menyembah Tuhan saat musik puji-pujian dimainkan di dalam gedung ini. Akibatnya, saat kita keluar dari pintu gereja, kita merasa Tuhan tertinggal di dalam gedung, dan kita hidup di hari Senin sampai Sabtu seolah-olah Tuhan tidak ada di sana. ​Misi yang membumi dimulai ketika kita menyadari bahwa kantor Anda, pasar, jalan raya, dan dapur rumah Anda adalah wilayah kedaulatan Tuhan. Tuhan tidak terkurung oleh tembok gereja. Lebih lanjut Paulus juga mulai membongkar sekat antara “Kudus” dan “Sekuler.” ​Orang Athena memisahkan hidup mereka: kuil adalah tempat kudus, pasar adalah tempat duniawi (sekuler). Paulus membongkar sekat itu. Jika Tuhan adalah Pencipta segalanya, maka setiap inci dari bumi ini adalah milik-Nya. ​Misi kita akan kehilangan “terangnya” jika kita hanya menjadi Kristen di dalam tembok gereja. Dunia sedang menunggu orang-orang percaya yang membawa hadirat Tuhan ke tempat-tempat yang dianggap kotor atau gelap. ​Di meja birokrasi, Anda membawa keadilan Tuhan. ​Di tengah persaingan bisnis, Anda membawa kejujuran Tuhan. ​Di media sosial, Anda membawa kedamaian Tuhan. ​Kita tidak perlu membawa orang ke dalam gedung gereja agar mereka bisa bertemu Tuhan. Kita yang harus membawa “Tuhan” (melalui hidup kita) ke tempat mereka berada. Sehingga bagian penting dari teologi ruang yang diajarkan oleh Paulus adalah bahwa hati manusia sebagai bait-Nya. ​Secara implisit, Paulus sedang mengarahkan mereka pada kebenaran bahwa Allah lebih tertarik pada hubungan pribadi daripada arsitektur bangunan. Dalam Perjanjian Baru, kitalah Bait Allah itu. ​Tuhan melampaui tembok buatan manusia karena Ia memilih untuk tinggal di dalam kita. Artinya, di mana pun Anda melangkah, di sana ada hadirat Tuhan. Anda adalah “kuil berjalan”. Jangan merasa bahwa pelayanan hanya terjadi saat Anda memegang mikrofon di mimbar atau menjadi usher atau penyambut di pintu gereja. Saat Anda mendengarkan keluh kesah teman di kafe, saat Anda mengajar murid dengan sabar, atau saat Anda merawat keluarga dengan kasih—Anda sedang melakukan ibadah yang nyata, karena Tuhan ada di sana bersama Anda. (Ant)

Bacaan Alkitab
Matius 9, Lukas 7