TEOLOGI EKONOMI ANUGERAH: PEMBERI DAN BUKAN PENERIMA

dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.
(Kisah Para Rasul 17:25)

Proklamasi tentang Allah tidak hanya berhenti pada Allah yang tidak bisa dikurung dalam bangunan saja, tetapi sampai juga pada fakta bahwa Allah sesungguhnya tidak membutuhkan kita. Segala kesombongan beragama sampai dengan saat ini adalah adanya pemikiran bahwa Tuhan membutuhkan kita. ​Di Athena, masyarakatnya percaya bahwa dewa-dewa mereka lapar dan haus. Mereka harus diberi sesaji agar tidak marah. Dewa-dewa itu “tergantung” pada pelayanan manusia. Namun, Paulus membalikkan logika itu di ayat 25 dengan kalimat yang sangat tajam: “Dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” Injil jelas menyatakan bahwa Tuhan adalah Pemberi, Bukan Penerima. Dia adalah Tuhan yang Maha Cukup (Independensi Allah). ​Paulus menegaskan bahwa Allah kita tidak memiliki “kekurangan”. Ia tidak butuh disuap dengan persembahan, Ia tidak butuh dibela dengan kekerasan, dan Ia tidak “haus” akan pujian kita seolah-olah tanpa pujian kita, maka Ia akan kehilangan kemuliaan-Nya. ​Dalam misi yang membumi, kita harus memiliki mentalitas ini. Seringkali kita bermisi dengan gaya seorang “pahlawan” yang ingin menyelamatkan Tuhan. Kita merasa seolah-olah jika kita tidak melayani, rencana Tuhan akan gagal. Itu adalah kesombongan yang terbungkus kesalehan. Tuhan tidak butuh kita, tapi Dialah yang mengizinkan kita ikut serta dalam pekerjaan-Nya. Jadi jikalau Anda mengerjakan pelayanan misi apapun juga itu adalah Respon, bukan Beban. ​Jika Tuhan adalah Pemberi segalanya—hidup, nafas, dan berkat—maka segala pelayanan kita hanyalah respon syukur. ​Pernahkah Anda melihat seorang anak kecil yang “mentraktir” ayahnya makan menggunakan uang saku yang diberikan oleh ayahnya sendiri? Sang ayah tentu senang, bukan karena ia butuh makanan itu, tapi karena ia melihat kasih di hati anaknya. ​Begitulah misi. Kita membagikan Injil bukan supaya Tuhan senang dan akhirnya memberkati kita. Kita membagikan Injil karena kita sudah begitu melimpah diberkati oleh-Nya. Terang kita bersinar bukan karena kita berusaha keras menyalakannya, tapi karena kita adalah cermin yang memantulkan cahaya dari Sang Matahari Kebenaran. Marilah kita mengerjakan misi yang membumi dengan kerendahan hati. ​Ketika kita menyadari bahwa Tuhan adalah “Pemberi”, maka cara kita memperlakukan orang lain akan berubah. Kita tidak akan memandang rendah orang yang belum percaya. Mengapa? Karena kita sadar bahwa nafas yang mereka hirup pun berasal dari Tuhan yang sama. ​Misi yang membumi tanpa kehilangan terang adalah misi yang penuh empati. Kita mendekati sesama bukan sebagai “si kaya rohani” yang bertemu “si miskin rohani”, melainkan seperti kata seorang teolog: “Misi adalah seorang pengemis yang memberi tahu pengemis lain di mana tempat menemukan roti.” ​Saudara, ingatlah bahwa setiap detik kehidupan kita adalah pemberian-Nya. Misi bukan tentang apa yang kita berikan kepada Tuhan, tapi tentang apa yang Tuhan berikan melalui kita kepada dunia. (Ant)

Bacaan Alkitab
Matius 11