TEOLOGI KEBANGSAAN: ARSITEK SEJARAH DAN GEOGRAFI
Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka.
(Kisah Para Rasul 17:26)
Kita sering mendengar istilah “warga kerajaan surga”. Namun, terkadang istilah itu membuat kita merasa menjadi “asing” di bumi sendiri. Seolah-olah menjadi Kristen berarti harus meninggalkan budaya, harus berhenti menjadi orang Indonesia, atau harus merasa lebih tinggi dari suku bangsa lain. Hari ini, Rasul Paulus membongkar pemikiran itu di hadapan orang Athena yang sangat bangga akan ras mereka. Orang Yunani saat itu menganggap bangsa lain sebagai “Barbar” (rendah). Namun, Paulus menegaskan di ayat 26: “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa di seluruh muka bumi dan Ia telah menetapkan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka.” Inilah yang kita sebut sebagai Teologi Kebangsaan, bahwa di dalam Kristus sungguh nyata dalam kesetaraan dalam satu akar. Paulus menghancurkan rasisme dan superioritas suku dengan satu kalimat: “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa.” Kita semua berasal dari akar yang sama. Tidak ada darah yang lebih “biru” atau lebih suci di hadapan Tuhan. Misi yang membumi tanpa kehilangan terang adalah misi yang menjunjung tinggi kesetaraan. Kita tidak membawa Injil sebagai bangsa yang “lebih maju” kepada bangsa yang “tertinggal”. Kita membawa Injil sebagai saudara yang berbagi kabar baik kepada saudaranya. Terang Kristus tidak akan bersinar melalui hati yang penuh prasangka terhadap suku atau ras lain. Dan patut untuk diingat bahwa Tuhan adalah Penulis sejarah (musim) dan geografi (batas). Paulus mengatakan bahwa Tuhanlah yang menetapkan musim-musim (waktu sejarah) dan batas-batas kediaman (tempat geografis). Artinya, Anda lahir sebagai orang Indonesia di abad ke-21 ini bukanlah sebuah kebetulan. Tuhan sengaja menaruh Anda di suku Anda, di kota ini, dan di masa sulit atau senang ini dengan sebuah tujuan. Seringkali kita mengeluh, “Kenapa saya lahir di keluarga ini?” atau “Kenapa negara kita seperti ini?”. Teologi ruang dan waktu ini mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah Arsiteknya. Misi kita adalah menjadi berkat tepat di mana kita ditanam. Jangan menunggu menjadi orang lain atau berada di tempat lain untuk mulai bercahaya. Dan yang menolong kita untuk dengan rendah hati mengerjakan misi membumi adalah dengan mengingat fakta karena Tuhan yang menetapkan adanya bangsa-bangsa, maka Tuhan juga menghargai warna-warni budaya. Menjadi Kristen tidak berarti Anda berhenti menjadi orang Jawa, Batak, Tionghoa, atau Papua. Misi yang membumi adalah misi yang menghargai kearifan lokal. Kita tidak membuang bahasa daerah kita, tapi kita menggunakan bahasa itu untuk memuliakan Tuhan. Kita tidak membuang adat istiadat yang baik, tapi kita “mengisinya” dengan nilai-nilai Injil. Terang Kristus justru akan semakin indah saat terpantul melalui keberagaman budaya manusia. Mari berjuang bersama untuk tidak menjadi orang Kristen yang “asing” bagi lingkungan kita. Jadilah orang Kristen yang paling mencintai bangsa ini, yang paling peduli pada kemajuan daerahmu, karena Tuhanlah yang menaruhmu di sini. Mengingat bagian ini, beranikah Anda berkata dengan teguh bahwa, identitas nasional dan suku kita adalah pemberian Tuhan, namun identitas tertinggi kita adalah sebagai anak-anak Allah. Mari kita pakai identitas duniawi kita sebagai alat untuk menyatakan kemuliaan surgawi. (Ant)
Bacaan Alkitab
Lukas 11
