INKLUSIF & TIDAK KEHILANGAN IDENTITAS

Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
(1 Korintus 9:19-22)

Sebuah kabar miris pernah saya terima tatkala di awal masuk Seminari, yang menceritakan tentang sebuah upaya seorang mahasiswa (dari sebuah STT) yang ingin “menjiwai” tugas akhirnya yang kemudian dituangkan dalam skripsi/tesis-nya. Sepintas saya berpikir ini sebuah upaya yang baik, sehingga apa yang dituliskannya bukan sekedar pendapat akademis & teoritis. Permasalahannya tidak sesederhana yang saya pikirkan. Konon, mahasiswa ini mengangkat isu sosial terkait bagaimana seseorang mempertahankan hidupnya dengan cara “menjual diri/tubuhnya”. Singkat cerita, ia menerjunkan dirinya kepada tindakan² amoral yang melibatkan kehidupan seksualitasnya. Dengan dalih ingin memahami & menjiwai karya tulisnya, ia melakukan “pelanggaran” untuk menjaga & mempertahankan identitasnya sebagai seorang mahasiswa STT yang seharusnya kristiani. Tidak jarang kita mendengar seseorang rela melakukan apa saja agar ia bisa diterima di sebuah komunitas; bahkan hal² yang seharusnya prinsip tidak lagi dianggap prinsip, hal² yang seharusnya penting tidak lagi dianggap penting – semua demi sebuah penerimaan. Manusia rela  meninggalkan identitasnya demi keserupaan dan penerimaan. Inklusivitas itu penting. Berdasarkan perenungan kemarin agar kita bisa mengerjakan mandat TUHAN, yakni memenangkan mereka bagi TUHAN. Namun satu hal yang seharusnya menjadikan kita mawas diri: Jangan Kehilangan Identitas. Hal itu dengan tegas disampaikan oleh Paulus, yang menjadi pembeda antara Paulus dengan orang² di mana Paulus berada. Simak:

  • Aku tidak hidup di bawah hukum Taurat (ayat 20)
  • Aku tidak hidup di luar hukum Allah (ayat 21)

Logikanya, identitas Paulus sangat melekat dengan dirinya sebagai rasul Kristus, yang harus hidup seturut dengan karakter Kristus dan hidup di bawah kedaulatan Kristus – sehingga Paulus beragenda untuk memenangkan orang² bagi Kristus. Ketika identitas ini diubah, maka semuanya akan hilang seturut dengan identitas baru-nya, dan bisa melupakan apa yang menjadi kehendak Allah. Bandingkan dengan Roma 12:2 – Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Ini merupakan hal yang harus diperhatikan oleh orang² percaya & gereja TUHAN, langkah inklusif harus menjadi perhatian & concern kita, tetapi jangan sampai kita kehilangan jati diri kita sebagai orang² percaya, jangan sampai kita kompromi dengan hal² memang seharusnya menjadi prinsip, hal² yang eksklusif yang menjadi bagian identitas kita.

TUHAN memberkati kita sekalian. (JP)

Bacaan Alkitab
Matius 15, Markus 7