GURU YANG MENGUBAH CARA KITA MELIHAT SEGALANYA

“Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala nabi-nabi.”
(Lukas 24:27)

Firman Tuhan mencatat ada dua murid Yesus yang berjalan menjauh dari Yerusalem, menjauh dari pusat peristiwa terbesar dalam sejarah keselamatan. Mereka pergi bukan karena mereka tidak tahu apa yang terjadi. Mereka tahu bahkan mereka bisa menceritakan ulang dengan cukup lengkap peristiwa tentang Yesus disalibkan, kubur kosong, bahkan kesaksian tentang kebangkitan. Tetapi tetap saja mereka memilih berjalan pergi. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan semua yang mereka ketahui tidak mereka lihat dengan benar.

Di titik inilah Yesus datang kepada mereka, bukan pertama-tama untuk memberi fakta baru, tetapi untuk mengoreksi cara mereka melihat semua fakta itu. Lukas mencatat: “Lalu Ia menjelaskan…” Ini bukan sekedar tambahan penjelasan, tetapi tindakan membuka dan menafsirkan ulang semua yang sudah mereka dengar sebelumnya. Yesus tidak mengambil satu ayat saja, tetapi “mulai dari kitab-kitab Musa dan segala nabi-nabi”. Ini menunjukkan bahwa seluruh Kitab Suci Perjanjian Lama sebenarnya berbicara tentang DIA.

Di sini kita mulai melihat siapa Yesus sebagai Guru yang sejati. Ia bukan hanya memberi pengetahuan baru, tetapi mengarahkan ulang seluruh cara mereka memahami firman. Artinya, selama ini mereka membaca Kitab Suci dengan pusat yang salah. Mereka melihat hukum hanya sebagai tuntutan, nubuat sebagai harapan politis, dan Mesias sebagai jawaban atas ekspektasi mereka sendiri. Di situlah Yesus membongkar cara mereka memahami semuanya. Hukum yang selama ini mereka lihat sebagai tuntutan, ternyata justru menunjukkan betapa mereka membutuhkan Dia. Nubuat yang mereka harapkan sebagai kemenangan politis, justru berbicara tentang penderitaan dan kemuliaan-Nya. Dan seluruh sejarah penebusan tidak berpusat pada harapan mereka, tetapi bergerak menuju salib dan kebangkitan-Nya. Ini bukan sekadar tambahan pengertian. Ini adalah perubahan total.

Dan jikalau kita jujur, kita pun sering tidak jauh berbeda. Kita membaca firman, tetapi pusatnya perlahan bergeser ke diri kita sendiri. Kita bertanya: “Apa yang Tuhan mau lakukan untuk hidupku? Bagaimana firman ini menolong masalahku?” Sekilas terlihat rohani. Tetapi tanpa sadar, kita tetap menjadikan diri kita sebagai pusat dan itu cukup untuk membuat kita salah membaca segalanya.  Karena ketika Kristus bukan pusat, salib terasa tidak masuk akal, penderitaan terasa sia-sia, dan hidup harus selalu berjalan sesuai rencana kita supaya kita bisa percaya. Tetapi ketika Yesus mengajar, semuanya berubah. Salib bukan kegagalan, tetapi pusat rencana Allah. Penderitaan bukan gangguan, tetapi bagian dari karya penebusan. Dan hidup bukan lagi tentang kita mengerti semuanya, tetapi tentang kita percaya kepada Dia yang menggenapinya. Di sinilah pengajaran Yesus menjadi sangat personal. Ia tidak hanya menjelaskan Kitab Suci, Ia sedang membongkar pusat hidup murid-murid-Nya. Dan itu juga yang Ia lakukan pada kita saat ini. Mungkin masalah kita saat ini bukan karena kita tidak membaca firman, tetapi karena kita belum sungguh memberi ruang bagi Kristus untuk mengajar kita cara membacanya. Pertanyaannya sekarang, maukah kita membiarkan Kristus menjadi Guru kita? Maukah kita membuka hati dan membiarkan Dia mengubah cara kita melihat Firman, kehidupan, dan diri kita sendiri?

Doa: Tuhan Yesus, ubah cara aku melihat firman-Mu. Jadilah pusat dari setiap pengertianku, sehingga aku tidak lagi hidup dari pikiranku sendiri, tetapi dari kebenaran-Mu. Amin. (mpn)

Bacaan Alkitab
Kisah Para Rasul 18-19