SAAT MATA DIBUKAKAN DAN KITA MELIHAT DIA

“Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.”
(Lukas 24:31)

Perjalanan ke Emaus akhirnya sampai pada satu titik yang tidak pernah mereka bayangkan. Di saat mereka mulai mengenal siapa yang selama ini berjalan bersama mereka, justru pada saat itu juga Yesus lenyap dari pandangan mereka. Kalau dilihat secara manusia, ini terasa membingungkan. Mengapa justru saat pengenalan itu terjadi, kehadiran yang terlihat itu tidak lagi ada? Namun di situlah kita mulai melihat bagaimana Yesus, Sang Guru Agung, sedang membentuk cara mereka percaya. Selama ini mereka mengenal Yesus melalui apa yang bisa mereka lihat dan alami secara langsung. Mereka mengikuti Dia, melihat mujizat, mendengar suara-Nya. Semua itu nyata dan penting. Tetapi semua itu belum membawa mereka pada pengenalan yang utuh. Sekarang, setelah mata rohani mereka dibukakan, mereka mulai mengenal Dia dengan cara yang lebih dalam. Bukan berarti yang terlihat tidak penting, tetapi mereka tidak lagi bergantung pada itu sebagai dasar utama iman mereka.

Yesus tidak sedang menjauh dari mereka. Ia sedang membawa mereka masuk ke pengenalan yang lebih dalam. Iman mereka sedang diarahkan. Dari yang bergantung pada yang terlihat, menuju kepada Kristus yang sudah menyatakan diri-Nya melalui firman dan karya-Nya. Inilah perubahan yang sangat penting. Karena iman Kristen tidak pernah berdiri di atas perasaan atau pengalaman semata, tetapi juga tidak terlepas dari perjumpaan dengan Kristus. Iman dibangun ketika Kristus menyatakan diri-Nya dan Roh Kudus meneguhkan kebenaran itu di dalam hati. Tanpa itu, iman akan mudah goyah. Ia bisa terasa kuat saat keadaan mendukung, tetapi menjadi lemah ketika situasi berubah. Dua murid ini tidak langsung melihat semua jawaban atas hidup mereka. Jalan yang mereka tempuh tetap sama, situasi di sekitar mereka tidak berubah, dan Yesus tidak lagi ada secara kasat mata. Tetapi sesuatu di dalam mereka sudah berbeda. Cara mereka melihat telah diubahkan oleh Kristus sendiri. Dan di situlah letak kekuatan iman yang sejati. Bukan karena semua menjadi jelas, tetapi karena mereka sudah mengenal Dia yang memegang seluruh hidup mereka.

Seringkali kita berpikir bahwa kita akan lebih percaya jika kita melihat lebih banyak atau mengalami sesuatu yang lebih nyata. Tetapi bagian ini menunjukkan bahwa yang kita butuhkan bukan sekadar pengalaman tambahan, melainkan pengenalan yang benar akan Kristus. Karena ketika Kristus, Sang Guru Agung, benar-benar menyatakan diri-Nya, iman tidak lagi berdiri di atas apa yang berubah-ubah, tetapi berakar pada Dia yang tidak berubah. Hari ini mungkin kita juga berjalan dalam situasi yang tidak selalu kita mengerti. Ada hal-hal yang belum jelas, doa yang belum terjawab, dan momen di mana Tuhan terasa jauh. Namun di tengah semua itu, pertanyaannya bukan apakah kita bisa melihat semuanya dengan jelas, tetapi apakah kita sungguh mengenal Dia yang sedang memimpin hidup kita. Karena ketika kita mengenal Kristus dengan benar, kita belajar percaya bukan karena semuanya terlihat, tetapi karena Dia telah menyatakan diri-Nya dan tetap setia. Seperti para murid yang diperlengkapi oleh pengajaran Yesus setelah kebangkitan-Nya, hari ini kita juga diundang untuk membuka hati, mengenal Kristus lebih dalam, dan bersiap secara aktif menerima tanggung jawab-Nya di tengah dunia ini.

Doa: Tuhan Yesus, Engkau adalah Guru yang sejati. Bentuklah imanku melalui firman-Mu dan karya-Mu, supaya aku belajar percaya bukan berdasarkan apa yang kulihat, tetapi berdasarkan siapa Engkau yang telah Engkau nyatakan kepadaku. Amin. (mpn)

Bacaan Alkitab
1 Korintus 9-11