SAAT KEBENARAN SUDAH JELAS, TAPI HATI TETAP MENOLAK
“Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!’”
(Lukas 24:25)
Yesus tidak memperlakukan kebingungan murid-murid sebagai hal netral. Ia menyebutnya dengan tegas: “bodoh” dan “lamban hati untuk percaya.” Ini bukan hinaan emosional, tetapi diagnosis rohani yang sangat tepat. Kata “bodoh” di sini bukan berarti tidak pintar, melainkan tidak menangkap kebenaran yang sebenarnya sudah cukup terang. Dan kata “lamban hati” menunjuk pada sesuatu yang lebih dalam dari sekedar lambat berpikir, hal ini berbicara tentang ketumpulan hati yang tidak responsif terhadap firman Allah. Artinya, problem murid-murid bukan kekurangan informasi, tetapi resistensi batin terhadap cara Allah bekerja. Masalah manusia bukan hanya belum mengerti, tetapi secara natur berdosa tidak mampu dan tidak mau memahami kebenaran Allah tanpa anugerah-Nya.
Para nabi sudah berbicara. Firman sudah memberi arah. Bahkan mereka sendiri sudah mendengar langsung dari Yesus sebelumnya. Tetapi ketika realitas salib datang yang mana tidak sesuai ekspektasi mereka, mereka tidak mampu mempercayai kebenaran itu. Di titik ini, Alkitab membuka satu doktrin yang tidak nyaman di telinga manusia, dimana manusia berdosa bukan hanya tidak tahu kebenaran tetapi tidak mau tunduk kepada kebenaran itu. Seperti yang dikatakan oleh John Calvin bahwa hati manusia adalah “pabrik berhala” terus memproduksi versi kebenaran yang sesuai dengan keinginannya sendiri. Maka ketika kebenaran Allah datang, terutama kebenaran tentang salib Kristus, reaksi alami hati bukan langsung percaya tetapi menolak secara halus.
Penolakan itu sering tidak terlihat sebagai pemberontakan terang-terangan. Ia muncul dalam bentuk yang lebih “rohani”, dimana kita tetap bisa membaca Alkitab tetapi memilih bagian yang nyaman di telinga kita, kita tetap bisa percaya Tuhan baik tetapi hanya selama hidup berjalan sesuai harapan, kita tetap bisa mengaku beriman tetapi keputusan hidup tetap dikendalikan oleh rasa takut. Di sinilah pengajaran Yesus menjadi sangat bermakna. Ia tidak hanya menjelaskan melainkan menyingkapkan kondisi hati manusia. Karena pengertian yang sejati tidak akan pernah terjadi kalau hati tetap menolak.
Dalam dunia pendidikan, seseorang bisa gagal karena tidak belajar. Tetapi dalam iman, seseorang sering gagal justru karena tidak mau tunduk pada apa yang sudah ia ketahui benar. Jika kita jujur saat ini, ada bagian firman yang sebenarnya sudah kita tahu tetapi belum kita percayai sepenuhnya. Dan seringkali kita tahu persis bagian mana itu, bagian yang terus dihindari, ditunda, atau dijelaskan ulang supaya terasa lebih nyaman. Bukan karena tidak jelas,tetapi karena tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Di situlah kita berhenti bertumbuh.
Yesus sebagai The Great Teacher tidak membiarkan murid-murid-Nya tinggal di situ. Ia menegur, bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menghancurkan ilusi bahwa mereka sudah cukup mengerti. Karena selama hati tidak dikoreksi, pengajaran hanya akan berhenti di kepala. Dan iman tanpa penundukan hati akan selalu rapuh ketika realita tidak sesuai harapan. Hari ini, mungkin yang kita butuhkan bukan firman yang baru, tetapi hati yang dilembutkan untuk percaya firman yang sudah jelas.
Doa: Tuhan Yesus, bongkar setiap bagian hatiku yang menolak kebenaran-Mu secara halus. Lembutkan hatiku supaya aku bukan hanya mengerti di pikiran saja, tetapi sungguh percaya dan tunduk pada firman-Mu. Amin. (mpn)
Bacaan Alkitab
1 Korintus 1-4
