SAAT HATI DIKALIBRASI, ARAH HIDUP BERBALIK
“Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu.”
(Lukas 24:33)
Bagian Firman Tuhan yang menyatakan satu tindakan yang sederhana, murid-murid bangun dan kembali. Namun justru di situlah kita melihat puncaknya. Beberapa waktu sebelumnya, dua murid ini berjalan menjauh dari Yerusalem. Mereka meninggalkan tempat di mana salib terjadi, menjauh dari komunitas, dan membawa hati yang penuh kebingungan serta pengharapan yang runtuh. Arah langkah mereka mencerminkan isi hati mereka. Tetapi sekarang, tanpa disuruh, tanpa didorong, mereka berbalik arah, dan itu terjadi pada saat itu juga. Bukan di waktu yang nyaman, bukan di kondisi yang ideal, dan tidak ada jaminan perjalanan akan mudah. Tetapi menariknya mereka tetap kembali. Hal ini dikarenakan sesuatu di dalam diri mereka sudah diubahkan.
Di sinilah kita melihat hasil dari pengajaran Yesus sebagai Sang Guru Agung. Selama perjalanan itu, Yesus tidak sekadar memberi informasi. Ia tidak hanya meluruskan pemahaman atau menjawab kebingungan mereka. Ia mengajar sampai hati mereka diubahkan, sampai cara mereka melihat menjadi benar, dan akhirnya sampai arah hidup mereka berbalik. Inilah yang membedakan pengajaran Kristus dari sekadar transfer pengetahuan. Pengajaran-Nya selalu mengarah pada perubahan hidup. Bukankah ini adalah inti dari pertobatan? Dimana yang terjadi bukan hanya perasaan bersalah atau kesadaran bahwa kita keliru, tetapi adanya perubahan arah hidup yang nyata. Dari menjauh menjadi kembali. Dari hidup dengan pengertian sendiri menjadi tunduk pada kebenaran Kristus. Dari menjadikan diri sebagai pusat menjadi hidup di bawah pemerintahan-Nya. Dan perubahan ini bukanlah tambahan dalam iman melainkan buah dari iman yang sejati. Perubahan yang dialami murid-murid ini memang besar, tapi sebenarnya inti dari proses itu sama dengan yang bisa terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Seringkali kita tidak merasa sedang menjauh. Kita hanya sedikit bergeser. Sedikit lebih percaya pada diri sendiri. Sedikit lebih dikendalikan oleh rasa takut. Sedikit lebih menentukan arah tanpa benar-benar bertanya kepada Tuhan. Tetapi pergeseran kecil itu, jika dibiarkan, perlahan membawa kita menjauh dari pusat yang benar. Itulah yang terjadi pada dua murid ini. Mereka tidak memberontak. Mereka hanya salah memahami, dan itu cukup untuk membuat mereka berjalan ke arah yang salah. Tetapi ketika Yesus mengajar, membuka pengertian, dan menyatakan diri-Nya, arah itu dikoreksi. Dan koreksi itu tidak berhenti pada apa yang mereka pikirkan, tetapi terlihat jelas dalam langkah yang mereka ambil dimana mereka kembali. Di titik ini kita melihat keindahan Injil dengan sangat nyata. Yesus tidak meninggalkan murid-murid yang berjalan menjauh. Ia mencari mereka, berjalan bersama mereka, mengajar mereka dengan sabar, membuka pengertian mereka, dan pada akhirnya membawa mereka kembali. Itulah Yesus, Sang Guru Agung. Ia bukan hanya mengajar kita apa yang benar, tetapi membentuk hidup kita supaya berjalan dalam kebenaran itu. Ia tidak hanya memberi terang, tetapi juga mengarahkan langkah kita kembali kepada Allah. Dan ini menjadi pertanyaan bagi kita. Jika kita berkata kita mengenal Kristus, ke mana arah hidup kita saat ini? Apakah kita sedang makin mendekat kepada kehendak-Nya, makin tunduk pada firman-Nya, makin kembali kepada pusat yang benar? Atau tanpa disadari, kita sedang menjauh secara perlahan? Sadarilah bahwa pengenalan yang sejati tidak mungkin tidak mengubah arah hidup. Tidak ada posisi netral. Setiap hari hidup kita sedang diarahkan, entah semakin dekat kepada Kristus atau semakin jauh dari-Nya. Dan arah itu terlihat bukan dari apa yang kita katakan, tetapi dari langkah yang kita ambil. Hari ini, setelah hati kita dikalibrasi oleh pengajaran-Nya, kita dipanggil untuk bangun dan mengambil langkah nyata. Langkah sederhana dimana kita kembali kepada firman, kembali dalam doa yang sungguh, kembali untuk menyerahkan setiap keputusan kepada Kristus, dan kembali untuk melayani di tempat kita berada. Tidak menunggu keadaan sempurna, tidak menunggu semuanya terlihat jelas, tetapi melangkah karena Dia telah mengubah hati kita dan menunjuk arah yang benar. Inilah respon iman yang nyata dari pengajaran Sang Guru Agung.
Doa: Tuhan Yesus, Engkau adalah Guru Agung yang tidak pernah berhenti membentuk hidupku. Kalibrasi ulang hatiku yang sering bergeser tanpa kusadari, dan arahkan kembali setiap langkahku supaya hidupku sungguh berjalan di dalam kehendak-Mu. Amin. (mpn)
Bacaan Alkitab
1 Korintus 12-14
