AMANAT AGUNG – APAKAH BISA DISEBUT SEBAGAI LEGACY?
Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
(Matius 28:18-20)
Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
(Markus 16:15-16)
Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.”
(Lukas 24:46-49)
Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.
(Yohanes 13:13-15)
Di akhir perenungan kita minggu ini, sengaja saya tampilkan 4 (empat Injil) yang bertema dan bernuansa sama dari apa yang Yesus ingin sampaikan kepada murid²-Nya (termasuk kita). Memang kita bisa mengartikan dalam keragaman istilah terhadap apa yang Yesus sampaikan ini. Bila kita menyebutnya sebagai Amanat yang diartikan sebuah PERINTAH maka respon yang tepat adalah keharusan & KETAATAN untuk melakukan. Bila kita mengartikan Amanat sebagai Wejangan, maka rasanya hal ini lebih soft dan masih menciptakan peluang untuk menerima atau menolak. Bila kita menempatkan Amanat itu sebagai sebuah Legacy yang kita terima dari Pendahulu untuk dilanjutkan apa yang telah dimulai dan dikerjakan, sampai pada penyelesaiannya – maka seharusnya respon kita adalah YA, menerima dan mengerjakan kelanjutannya.
Harapannya, setelah kita berefleksi dalam PA pribadi di hari kemarin setiap kita menyadari ada sesuatu yang luar biasa di balik Legacy itu sendiri. Hal ini memang sangat terkoneksi kuat dengan relasi yang terjadi antara si penerima & sang pemberi legacy. Se-akan² kualitas relasi itu sendiri yang memegang peranan. Masalahnya ini bukan antara kita dengan orangtua kita yang mungkin sudah menyiapkan warisan/legacy bagi kita anak²nya, tetapi antara kita dengan TUHAN Allah yang berkuasa & berdaulat dan yang telah menyatakan kasih-Nya bagi setiap kita di dalam Yesus Kristus. Bagaimana seharusnya kita mengartikan dan meresponnya?
Legacy yang Yesus tinggalkan bagi setiap orang percaya, bukan sekedar sebuah predikat menjadi anak² Allah, tetapi IA mempercayakan kita menjadi Co Worker TUHAN, Yesus juga meninggalkan keteladanan-Nya, sehingga setiap kita harus melakukan apa yang dilakukan oleh Yesus. IA adalah Allah yang mengasihi, maka seharusnya setiap kita harus berkarakter Kasih, melakukan Kasih & menyatakan Kasih. OK? (jp)
Bacaan Alkitab
Efesus
