JERUSALEM. WHAT HAPPEN IN IT?
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.
(Kisah Para Rasul 1:8)
Banyak orang langsung fokus pada ujung bumi seolah itu adalah puncak keberhasilan dalam menjalankan Amanat Agung. Padahal, jika kita perhatikan dalam bacaan kita ini, ada urutan yang jelas: Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi. Ini bukan sekadar urutan lokasi, tetapi juga menggambarkan proses tentang pemulihan dan kesiapan hati sebelum melangkah lebih jauh. Bisa dikatakan bahwa Yerusalem justru adalah tempat yang menakutkan bagi sebagian besar para pengikut Kristus saat itu, termasuk para murid. Timothy Keller menggambarkan kondisi mereka setelah penyaliban, yaitu mereka ketakutan (hingga bersembunyi), kebingungan (karena harapan tentang Mesias runtuh), dan terpukul secara emosional (karena melihat Guru mereka dihukum dengan kejam). Jika dilihat dengan kacamata masa kini, kondisi ini sangat dekat dengan respons trauma akut.
Namun menariknya, justru di kota itulah Yesus mengumpulkan mereka kembali. Secara medis, pengalaman trauma seperti yang dialami para murid bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga lebih dari setahun untuk pulih. Tetapi Alkitab menunjukkan bahwa proses mereka tampak lebih cepat. Mengapa? Karena ada pemulihan relasi, dimana Yesus datang menjumpai mereka. Dari perjumpaan itu, keberanian yang sempat hilang mulai dipulihkan. Dengan sengaja Yesus membawa mereka kembali ke Yerusalem, dan di sanalah semangat mereka dibangun kembali sebagai tanda bahwa mereka sungguh-sungguh telah dipulihkan. Ketika para murid dipulihkan, Yerusalem tidak lagi menjadi tempat ketakutan, melainkan menjadi tempat peneguhan dan pengutusan. Di sanalah mereka belajar bergantung penuh pada janji Tuhan, bukan lagi pada kekuatan atau pengalaman mereka sendiri. Mereka berkumpul, menantikan janji turunnya Roh Kudus (Kis. 1:4), dan dalam proses itu iman mereka dibentuk.
Demikian juga dengan kita, setiap orang pasti punya Yerusalem tempat di mana kita pernah jatuh, gagal, atau terluka. Sering kali kita ingin menjauh dan melupakannya. Namun Tuhan justru memakai tempat itu untuk membentuk kita. Di sanalah kita belajar jujur, mengakui keterbatasan, dan memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Sebab pada akhirnya, kuasa untuk menjadi saksi tidak lahir dari keberanian manusia, melainkan dari perjumpaan yang nyata dengan Tuhan yang memulihkan. (gn)
Doa: Tuhan, kami membawa hidudp kami supaya dipulihkan oleh Engkau, dan berikan kami pengertian untuk melihat Engkau bekerja dalam hidup kami, lingkungan kami ini. Amin
Bacaan Alkitab
Filipi
