KETIKA KETAATAN MENJADI IDENTITAS

Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis, dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.”
(Kisah Para Rasul 2:41)

Di era sekarang, banyak orang tidak lagi menolak gereja, tetapi juga tidak benar-benar menjadi bagian dari gereja. Mereka hadir dalam aktivitas rohani, tetapi tetap menjaga jarak secara identitas. Fenomena ini tidak selalu terlihat sebagai masalah rohani yang serius, karena seseorang tetap bisa aktif, tetap bisa melayani, bahkan tetap bisa terlihat “terhubung” dengan komunitas Kristen. Namun di dalamnya ada pergeseran halus dari keterikatan menjadi keterlibatan sementara. Budaya modern sangat mendukung hal ini. Hampir semua hal kini bersifat fleksibel mulai dari pekerjaan, komunitas, bahkan relasi sosial. Identitas tidak lagi dibangun dari keterikatan jangka panjang, tetapi dari pengalaman yang bisa dipilih dan diganti. Tanpa sadar, pola ini juga masuk ke dalam kehidupan gereja. Banyak orang merasa cukup dengan “mengikuti Tuhan”, tanpa perlu benar-benar “menjadi bagian tubuh Kristus”. Di sinilah kita perlu kembali membaca ulang bagaimana gereja pertama kali terbentuk dalam Kisah Para Rasul 2.

Frasa “orang-orang yang menerima perkataannya” di ayat ini sangat penting. Kata “menerima” dalam bahasa Yunani adalah apodechomai, yang tidak sekadar berarti mendengar atau menyetujui, tetapi menyambut dengan kesediaan penuh, menerima dengan keterbukaan yang mengikat dan ini merupakan sebuah respons yang membentuk relasi baru. Dengan kata lain, ini bukan keputusan intelektual, tetapi perpindahan identitas. Mereka tidak hanya menerima isi pesan Petrus, tetapi menerima konsekuensi dari pesan itu. Dan konsekuensinya terlihat jelas yaitu “memberi diri dibaptis”. Baptisan di sini bukan sekadar simbol rohani, tetapi tindakan publik yang menyatakan: “hidup lama saya sudah selesai, dan hidup baru saya sudah dimulai dalam komunitas Kristus.” Hal yang menarik adalah bahwa teks ini tidak menekankan emosi mereka, tetapi keputusan mereka. Tidak ada catatan tentang suasana hati, tetapi tentang tindakan yang mengikat. Dan hasilnya tiga ribu jiwa ditambahkan. Namun pertumbuhan itu bukan inti utama teks ini. Yang lebih dalam adalah transformasi identitas dari individu menjadi bagian tubuh.

Hari ini kita kembali diingatkan bahwa ketaatan bukan hanya awal perjalanan, tetapi identitas yang terus dibentuk. Artinya, seseorang tidak hanya “taat pada momen pertobatan”, tetapi hidup dalam pola keterikatan yang berkelanjutan. Masalah banyak orang Kristen hari ini bukan tidak percaya Tuhan, tetapi tidak pernah benar-benar bergeser dari “penonton rohani” menjadi “bagian tubuh”. Mereka bisa menikmati firman, tetapi tidak hidup sebagai bagian dari tubuh yang firman itu bentuk. Padahal dalam pola gereja mula-mula, iman tidak pernah berdiri sendiri sebagai pengalaman privat. Iman selalu menghasilkan keterikatan komunal. Mari jujur dan lihat posisi kita saat ini:

  • Apakah saya sedang hidup sebagai bagian tubuh Kristus, atau hanya sebagai peserta kegiatan rohani?
  • Apakah iman saya membentuk identitas baru, atau hanya menambah aktivitas rohani?
  • Apakah saya hidup dalam keterikatan, atau hanya keterlibatan sementara?

Doa
Tuhan, aku menyadari bahwa sering kali aku hidup dalam iman yang hanya bersifat kegiatan, bukan identitas. Bentuk aku kembali menjadi bagian tubuh-Mu yang sejati. Ajarkan aku untuk tidak hanya taat dalam momen tertentu, tetapi hidup dalam ketaatan yang membentuk siapa aku setiap hari. Amin. (Mpn)

Bacaan Alkitab
Ayub 38-39