KETAATAN DALAM PERSEKUTUAN

“Namun jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.”
(1 Yohanes 1:7)

Seorang penginjil bernama John Wesley pernah melihat bahwa pertumbuhan iman orang percaya tidak hanya terjadi melalui ibadah besar, tetapi justru melalui kehidupan bersama dalam kelompok kecil. Karena itu ia mengembangkan class meeting, sebuah komunitas di mana orang percaya tidak hanya belajar firman, tetapi juga saling membuka hidup, saling menguatkan, dan saling menjaga perjalanan iman satu sama lain. Bagi Wesley, iman Kristen tidak pernah dimaksudkan untuk dijalani sendirian. Tanpa persekutuan yang nyata, iman mudah melemah dan kehilangan arah. Namun di zaman sekarang, banyak orang terbiasa menjalani iman secara individual, datang ke gereja, pulang, lalu menjalani hidup rohani masing-masing tanpa keterhubungan yang nyata. Padahal sejak awal, Tuhan tidak pernah merancang kita untuk berjalan sendiri, tetapi menjadi bagian dari tubuh yang saling terhubung.

Surat 1 Yohanes ditulis kepada jemaat yang sedang menghadapi situasi serius berupa perpecahan dan pengajaran yang menyimpang. Ada orang-orang yang mulai menarik diri dari komunitas iman dan merasa lebih “rohani” secara individual, sehingga relasi dalam tubuh Kristus mulai retak. Dalam konteks ini, Yohanes menegaskan bahwa kehidupan orang percaya yang sejati adalah hidup di dalam terang. Hidup dalam terang bukan hanya berbicara tentang relasi pribadi dengan Tuhan, tetapi kehidupan yang terbuka di hadapan Allah tanpa kepura-puraan, tanpa kehidupan yang disembunyikan, dan tanpa iman yang dijalani secara terpisah. Dan menariknya, Yohanes langsung menghubungkan hidup dalam terang dengan persekutuan bahwa ketika seseorang hidup dalam terang, hasilnya adalah persekutuan satu dengan yang lain. Ini menunjukkan satu hal penting, dalam pemahaman Yohanes, relasi dengan Tuhan dan relasi dengan sesama tidak bisa dipisahkan. Hidup yang benar di hadapan Tuhan selalu menghasilkan keterhubungan yang nyata dengan tubuh Kristus. Di tengah konteks kita sekarang, hal ini menjadi sangat relevan. Kita hidup di era di mana iman bisa dijalani secara individual, terhubung dengan Tuhan secara pribadi, tetapi perlahan terputus dari kehidupan bersama umat Tuhan. Padahal Yohanes menunjukkan bahwa hidup dalam terang tidak pernah berhenti di relasi vertikal, tetapi selalu menghasilkan relasi horizontal yang nyata. Karena itu, ketaatan dalam persekutuan bukan sekadar kehadiran dalam komunitas gereja, tetapi kesediaan untuk hidup dalam keterhubungan yang Tuhan pakai untuk membentuk kita. Ini berarti mau terbuka dalam relasi, mau dibentuk melalui orang lain, mau tetap terhubung dalam proses pertumbuhan, dan tidak hidup dalam iman yang terisolasi. Dengan kata lain, ketaatan dalam persekutuan adalah menundukkan kehidupan pribadi kita ke dalam realitas tubuh Kristus, di mana kita tidak hanya dipanggil untuk percaya, tetapi juga untuk saling membangun dalam kasih dan kebenaran.

Hari ini kita diajak untuk melihat kembali cara kita menjalani iman dalam komunitas. Apakah kita benar-benar hidup dalam persekutuan yang nyata, atau hanya hadir secara fisik tanpa keterhubungan yang dalam? Tuhan tidak hanya membentuk kita melalui firman dan doa pribadi, tetapi juga melalui relasi dengan saudara seiman. Karena dalam ketaatan kepada Tuhan, kita juga sedang belajar untuk hidup dalam keterbukaan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk dibentuk melalui persekutuan.

Doa
Tuhan, ajar aku untuk tidak hidup sendiri dalam iman. Bentuk aku melalui persekutuan dengan saudara seiman. Ajarkan aku untuk hidup dalam keterbukaan, rendah hati, dan mau dibentuk melalui relasi yang Engkau tempatkan dalam hidupku. Amin. (Mpn)

Bacaan Alkitab
Kejadian 19-21