DOA ITU JALAN MAKIN MENGENAL HATI BAPA YANG KUDUS
“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
(Matius 6:5-13)
Yesus membuka teladan doa-Nya dengan dua kata yang revolusioner: “Bapa kami”. Kata ini mengubah jarak antara pencipta dan ciptaan menjadi hubungan keluarga yang sangat dekat. Namun, kalimat itu langsung diikuti dengan “Dikuduskanlah nama-Mu”, yang menjaga agar kita tetap memiliki rasa hormat yang gentar (reverence). Gaya hidup doa yang sehat menyeimbangkan keintiman dan penghormatan. Kita tidak datang kepada Tuhan dengan sikap menuntut seolah Dia adalah pelayan kita, tetapi kita datang sebagai anak yang mengagumi kekudusan dan otoritas Bapanya. Ketika karakter ini tertanam, cara kita memandang hidup akan berubah—kita sadar kita punya Bapa yang berkuasa atas semesta, namun memeluk kita dengan kasih sayang. John F. Kennedy Jr. sewaktu kecil sering bermain di bawah Meja Resolute di dalam Oval Office (ruang kerja Presiden Amerika Serikat), tempat di mana keputusan-keputusan penting dunia diambil. Bagi para menteri dan jenderal, ruangan itu adalah tempat yang menegangkan dan penuh protokol. Namun bagi John Jr., itu adalah ruang kerja ayahnya. Dia bisa masuk kapan saja dan memeluk ayahnya. Meski demikian, saat ayahnya berpidato kenegaraan, John Jr. ikut berdiri dan menghormati posisi ayahnya sebagai pemimpin negara. Dari hal ini jelas, Tuhan sedang memperlihatkan suatu pengalaman yang intim dan menyenangkan dengan Allah. Sebutan Bapa Kami”: juga memperlihatkan hati Bapa yang mau setiap kita mematikan Egoisme: Yesus tidak mengajar kita berdoa “Bapaku”, melainkan “Bapa kami”. Ini adalah pengingat bahwa doa sejati selalu membawa kita keluar dari egoisme dan menghubungkan kita dengan komunitas orang percaya lainnya. Menyebut “di sorga” mengingatkan kita bahwa ketika kita berlutut di bumi, kita sedang terhubung dengan pusat kendali semesta. Masalah kita di bumi tidak ada apa-apanya dibandingkan takhta-Mu yang di sorga. ”Dikuduskanlah Nama-Mu”: ingin mengatakan bahwa agenda utama hidup Kita: dimulai dengan kerinduan agar karakter, reputasi, dan kekudusan Tuhan ditinggikan melalui perkataan, pekerjaan, dan gaya hidup kita sehari-hari. Tantangan Rabu ini adalah: Saat Anda memulai doa, jangan langsung masuk ke daftar permintaan Anda (shopping list). Gunakan 5 menit pertama murni untuk mengagumi kekudusan-Mu, memuji kebaikan-Mu, dan mengagungkan nama-Nya. (Ant)
Bacaan Alkitab
Keluaran 4-6
