THE HIDDEN ROOM IN THE MID OF TRAFFIC LIFE

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] 
(Matius 6:5-13)

Susanna Wesley (ibu dari John dan Charles Wesley, tokoh kebangkitan rohani besar) hidup pada abad ke-18 dan membesarkan 19 anak di rumah yang kecil dan sangat bising. Dia tidak memiliki ruangan fisik yang kosong untuk menyendiri. Tetapi Susanna mampu memiliki kehidupan doa yang baik. Mengapa? Ternyata menjadikan doa sebagai lifestyle berarti kita memiliki kapasitas untuk menarik diri dari kebisingan dunia dan fokus pada hadirat Tuhan. Jika di ayat ke enam dikatakan bahwa jikalau kita berdoa, Tuhan Yesus memberikan nasihat untuk segera pergi dan masuk ke ruangan yang tertutup, apakah itu dipahami secara hurufiah atau bisa saja dipahami sebagai ruang yang tidak bersifat fisik juga. Kata “kamar” di sini menggunakan kata ταμεῖον (tameion). Di rumah-rumah Timur Tengah kuno, tameion adalah ruang rahasia di bagian paling dalam rumah, biasanya digunakan untuk menyimpan harta benda berharga atau persediaan makanan. Ruangan ini adalah satu-satunya kamar yang memiliki pintu yang bisa dikunci rapat. Dengan meminta kita masuk ke tameion, Yesus menegaskan bahwa doa adalah momen di mana kita menyimpan dan menikmati “harta paling berharga” kita, yaitu hadirat Allah, jauh dari gangguan luar. Lalu bagaimana dengan kita yang tidak memiliki tameion? Sesungguhnya ruang tersembunyi ini tidak selalu berupa lokasi fisik; ini adalah sikap hati yang bisa kita bawa ke mana saja—saat menyetir, di meja kerja, atau di sela-sela kesibukan. Ketika kita terbiasa menutup pintu dari segala gangguan duniawi, di situlah karakter kita dibentuk menjadi pribadi yang bergantung penuh pada-Nya. Susanna Wesley meski tidak memiliki ruang khusus doa, dia mampu menciptakan tameion-nya. Setiap siang, Susanna akan duduk di kursi ruang tamu dan mengangkat kain celemek (apron) miliknya untuk menutupi kepala dan wajahnya. Anak-anaknya tahu, jika ibu sudah menutup kepalanya dengan celemek, itu artinya ibu sedang berada di “kamar rahasia” bersama Tuhan dan tidak ada yang boleh mengganggunya. Tantangan Senin Ini: Tentukan satu tempat dan waktu khusus setiap hari di rumah Anda (bisa di pojok kamar, meja kerja, atau mobil sebelum berangkat kerja). Matikan ponsel Anda selama 15 menit, kunci pintu dari gangguan, dan duduklah diam berdialog dengan Bapa. (Ant)

Bacaan Alkitab
Kejadian 48-50