DOA ITU MENYELARASKAN KEHENDAK BUKAN MEMAKSA

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] 
(Matius 6:5-13)

Dalam sebuah orkes simfoni yang terdiri dari puluhan alat musik (biola, celo, flute, trompet), sebelum konser dimulai, semua musisi tidak menyetem alat musik mereka berdasarkan selera masing-masing. Sang konduktor akan memukulkan sebuah garpu tala (tuning fork) yang menghasilkan nada standar universal (biasanya nada A=440Hz). Semua instrumen, tanpa terkecuali, harus mengubah ketegangan senar atau tiupannya agar selaras dengan bunyi garpu tala tersebut. Bukan garpu tala yang menyesuaikan diri dengan biola, melainkan biola yang menyesuaikan diri dengan garpu tala. Demikian juga Tuhan Yesus sedang memperbaiki perspektif kita tentang doa, karena doa sering kali disalahpahami sebagai alat untuk memaksa kehendak bumi terjadi di surga. Kita ingin Tuhan menandatangani rencana-rencana hebat yang kita buat. Namun Yesus mengajarkan sebaliknya: “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Doa adalah sebuah proses mempersembahkan hidup kita agar agenda Allah yang terjadi. Sungguh patut kita pahami bahwa doa itu semestinya menolak Kerajaan Diri Sendiri: Kita tidak bisa berdoa “Datanglah Kerajaan-Mu” jika pada saat yang sama kita sedang sibuk membangun “kerajaan bisnis”, “kerajaan popularitas”, atau “kerajaan ego” kita sendiri. Salah satu harus runtuh agar yang lain bisa tegak. Pilihannya berarti dalam doa nyata sikap kita untuk taat total tanpa syarat: Di surga, para malaikat menaati perintah Allah secara instan, sempurna, dan tanpa bantahan. Berdoa agar kehendak-Mu terjadi di bumi berarti kita berkomitmen untuk menaati firman-Nya di bumi dengan standar yang sama seperti di surga. Jadi doa tidak mengubah pikiran Allah; doa mengubah hati kita agar selaras dengan frekuensi hati Allah. Tantangan Kamis Ini: Ketika Anda mendoakan rencana masa depan Anda (karier, jodoh, keuangan), beranikan diri untuk mengakhiri doa Anda dengan kalimat ini: “Tuhan, jika rencana ini bertentangan dengan kehendak-Mu, gagalkanlah, dan ubah hatiku agar mencintai kehendak-Mu.” (Ant)

Bacaan Alkitab
Keluaran 7-9