DOA ITU PENJAGA HATI DAN LANGKAH KITA
“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
(Matius 6:5-13)
Bagian penutup dari teladan doa ini berbicara tentang dua hal krusial dalam perjalanan harian kita: pengampunan dan perlindungan. Kita meminta ampun, sekaligus berkomitmen mengampuni orang lain. Kita juga meminta kekuatan agar kaki kita tidak tergelincir ke dalam dosa. Ini menunjukkan bahwa doa adalah perisai aktif bagi karakter kita. Tanpa hubungan doa yang konsisten, hati kita akan mudah menjadi pahit oleh kesalahan orang lain dan benteng pertahanan kita akan rapuh terhadap godaan. Menjadikan doa sebagai lifestyle berarti kita terus-menerus melakukan “sinkronisasi hati” dengan Tuhan setiap hari, memastikan hidup kita tetap bersih, melangkah di jalur yang benar, dan hidup dalam kemenangan rohani. Ada yang menarik dan penting untuk diperhatikan bahwa kata “kesalahan” di sini menggunakan ὀφείλημα (opheilema) yang arti harfiahnya adalah “hutang moral yang sah.” Dari kata itu kita dapat pemahaman yang lebih dalam bahwa dosa membuat kita berhutang di hadapan keadilan Allah. Dan Yesus mengaitkan pengampunan yang kita terima dengan kerelaan kita menghapus hutang moral orang lain kepada kita. Lalu kata “pencobaan” menggunakan kata πειρασμός (peirasmos), yang bisa berarti ujian iman untuk memurnikan, atau godaan dari iblis untuk menjatuhkan. Kita memohon perlindungan agar tidak ditempatkan dalam situasi di mana kedagingan kita menyerah pada dosa. Selama hidup di dunia pastinya Anda dan saya, akan dipenuhi luka (membutuhkan pengampunan) dan penuh jebakan dosa (membutuhkan perlindungan). Namun melalui doa pemahaman baru kita seharusnya dibukakan bahwa doa bukan sekadar pelengkap pelindung, doa adalah sistem pertahanan utama (border control) bagi hati dan langkah hidup kita setiap hari. Yesus mengaitkan pengampunan yang kita terima dari Allah dengan pengampunan yang kita berikan kepada sesama (“seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”). Karakter doa yang sejati tidak mungkin menyimpan kepahitan, dendam, atau kebencian. Untuk itu marilah kita makin waspada terhadap Jebakan Musuh: Meminta “jangan membawa kami ke dalam pencobaan” adalah doa kerendahan hati yang mengakui bahwa kedagingan kita lemah. Orang yang memiliki lifestyle doa tidak akan dengan sengaja bermain-main di tepi jurang dosa; dia tahu batas kekuatannya dan bersandar pada perlindungan Roh Kudus. Tantangan Sabtu Ini: Adakah orang yang belum Anda ampuni? Bereskan itu dalam doa pribadi Anda hari ini. Jadikan doa pagi Anda sebagai momen untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah sebelum Anda melangkah keluar rumah menemui dunia. (Ant)
Bacaan Alkitab
Keluaran 13-15
