DOA ITU BERGANTUNG TOTAL SETIAP HARI

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] 
(Matius 6:5-13)

Perhatikan kata “pada hari ini” dan “secukupnya.” Tuhan sengaja tidak mengajarkan kita meminta pasokan untuk sepuluh tahun ke depan sekaligus. Mengapa? Karena Dia ingin kita menginternalisasi gaya hidup yang bergantung pada-Nya setiap hari. Kata “secukupnya” dalam teks asli adalah ἐπιούσιος (epiousios). Ini adalah salah satu kata paling langka dalam seluruh Perjanjian Baru. Makna literalnya adalah “untuk hari esok” atau “yang diperlukan untuk keberadaan hidup hari ini. Yesus mengajarkan sebuah konsep yang radikal bagi budaya penimbun: mintalah pasokan yang cukup untuk hari ini, agar besok pagi engkau punya alasan untuk kembali datang mengetuk pintu Bapa. Ini menghancurkan ilusi kemandirian palsu manusia.  ​Meminta makanan secukupnya untuk hari ini melatih karakter kita untuk bebas dari kekhawatiran masa depan dan belajar mencukupkan diri. Doa ini mengingatkan bahwa napas, kekuatan, dan berkat kita setiap pagi adalah pemberian langsung dari tangan-Nya. Orang yang menjadikan doa sebagai gaya hidup tidak akan menjadi sombong saat kelimpahan, dan tidak akan memelas putus asa saat kekurangan, karena mereka tahu Bapa selalu menyuplai tepat pada waktunya. Ketika bangsa Israel berada di padang gurun, Tuhan memberikan makanan berupa manna yang turun dari langit setiap pagi (Keluaran 16). Peraturannya ketat: setiap orang hanya boleh mengambil secukupnya untuk hari itu. Jika ada yang serakah dan menyimpannya untuk besok karena takut kelaparan, manna itu akan membusuk dan berulat. Tuhan sedang mendidik sebuah bangsa selama 40 tahun agar memiliki karakter percaya bahwa Tuhan yang memelihara mereka hari ini, adalah Tuhan yang sama yang akan memelihara mereka esok hari. Tentu saja berbeda dengan apa yang dunia ajarkan, Dunia mengajarkan kita untuk menimbun, mengamankan investasi untuk puluhan tahun ke depan, dan hidup dalam kecemasan konstan akan masa depan. Tetapi Yesus mengajarkan gaya hidup doa yang sangat kontras: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Kata epiousios (secukupnya/yang diperlukan untuk hari esok) mendidik karakter kita untuk percaya pada pemeliharaan Allah yang segar setiap pagi.   Tantangan Jumat Ini: Setiap kali rasa cemas akan masa depan atau keuangan menyerang pikiran Anda, ucapkan dengan lantang: “Tuhan adalah gembalaku, aku tidak akan kekurangan. Terima kasih untuk pemeliharaan-Mu hari ini.” (Ant)

Bacaan Alkitab
Keluaran 10-12