ALLAH & KELUARGA
Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”
(Kejadian 1:26-28)
Ketika kita bicara soal keluarga, sebetulnya ini bukan sebuah pembicaraan yang se-mata² dimulai dan diawali oleh sebuah relasi 2 (dua) Anak manusia: laki² & perempuan yang telah memadu kasih dan ingin hidup bersama, dan melahirkan anak². Jauh sebelum semuanya itu terjadi, sesungguhnya Sang Perencana Agung telah merencanakan perkawinan/ pernikahan dan keluarga itu sebelumnya, yang kemudian terwujud dalam tatanan manusia yang diciptakan-Nya. Dari bacaan kita di atas seharusnya membuat kita yang percaya kepada-Nya memiliki beberapa kesepakatan, antara lain:
Kita sepakat – Allah menciptakan manusia sebagai ciptaan tertinggi, yang diciptakan-Nya sebagai peta dan teladan-Nya. Manusia sebagai mandataris-Nya, dan manusia itu diciptakan-Nya, laki² & perempuan. (Kejadian 1:27) → (?)
Kita sepakat – bahwa keluarga merupakan “institusi terkecil” yang dirancang & diciptakan Allah dengan dan dalam maksud tujuan-Nya dengan cara memadukan & mempersatukan manusia: laki² dan perempuan itu, untuk mengerjakan mandat-Nya tatkala memenuhi & mengelola bumi, dan seakan menjadi “lengkap” tatkala TUHAN memberikan keturunan yang berketurunan.
Kita sepakat – bahwa apa yang menjadi maksud & tujuan Allah di dalam dan melalui keluarga, mengalami deviasi/ penyimpangan arah tatkala manusia jatuh dalam dosa, namun sesungguhnya dosa tidak pernah sanggup & mampu menghancurkan & menghentikan rancangan Allah dalam & bagi keluarga. Keluarga menjadi salah satu titik simpul untuk membawa manusia terkoneksi kembali dengan Allah. (Kejadian 17:7)
Kita sepakat – bahwa kerinduan-Nya yang dituangkan dalam perintah²-Nya melahirkan konsekuensi² agar keluarga menjadi tempat bermulanya sebuah proses yang membawa manusia masuk dalam koridor yang dimau oleh Allah, sehingga sejak masa kecilnya manusia sudah menerima berbagai treatment yang harus dikerjakan oleh orangtuanya (Ulangan 6:1-9).
Kita sepakat – bahwa kita akan menemukan kesepakatan² yang lain tatkala mencoba menelusuri terhadap apa yang Allah sudah dan akan lakukan di dalam dan melalui keluarga, pastinya keluarga ditempatkan dalam posisi krusial dalam rencana agenda-Nya. . . . . Dst.
Perenungan:
Setelah kita mencicipi sekelumit “Kita sepakat”² di atas, apakah bisa sedikit menolong kita untuk menjawab pertanyaan tema kita hari ini: KELUARGA. PENTING? Apakah mungkin tatkala Allah merencanakan dan melakukan hal terkait keluarga dengan begitu rupa, untuk sesuatu yang tidak penting?
Bacaan Alkitab
Keluaran 16-18
