ADA TELINGA YANG MAU MENDENGAR

Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun…”
(Ulangan 6:7a)

Ketika membaca Ulangan 6:7, kita sering kali langsung memusatkan perhatian pada tugas orang tua untuk mengajar anak-anak. Memang benar, itu adalah salah satu penekanan utama ayat ini. Namun jika diperhatikan lebih dalam, proses mengajar yang dimaksud Tuhan tidak mungkin terjadi tanpa adanya relasi yang dekat dan komunikasi yang sehat di dalam keluarga.

Kata “mengajarkan berulang-ulang” dalam bahasa aslinya mengandung gambaran tentang sesuatu yang dilakukan terus-menerus, dengan tekun dan disengaja. Ini bukan gambaran seorang guru yang menyampaikan pelajaran sekali lalu selesai. Sebaliknya, ini adalah gambaran kehidupan sehari-hari yang dipenuhi percakapan, bimbingan, koreksi, dan pengajaran yang berlangsung dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, Tuhan sedang menggambarkan sebuah keluarga yang saling berinteraksi.

Namun di sinilah tantangan yang sering muncul. Banyak keluarga sebenarnya lebih banyak berbicara daripada mendengar. Orang tua ingin didengar anak-anaknya. Anak-anak ingin didengar orang tuanya. Suami ingin dimengerti istrinya. Istri ingin dipahami suaminya. Semua ingin didengar, tetapi tidak banyak yang sungguh-sungguh mau mendengar. Padahal mendengar adalah salah satu bentuk kasih yang paling nyata. Menarik bahwa bagian ini diawali dengan kata Dengarlah, hai orang Israel…” (Ul. 6:4)

Sebelum Israel diperintahkan untuk mengajar, mereka terlebih dahulu diperintahkan untuk mendengar. Sebelum seseorang dapat menyampaikan kebenaran dengan benar, ia harus menjadi pendengar yang baik. Prinsip ini juga berlaku dalam keluarga. Kita tidak dapat membangun kebersamaan jika kita tidak menyediakan ruang untuk mendengar satu sama lain. Mendengar bukan sekadar menangkap kata-kata yang diucapkan. Mendengar berarti memberi perhatian. Mendengar berarti mencoba memahami isi hati di balik perkataan. Mendengar berarti menahan keinginan untuk segera menghakimi, menyalahkan, atau memberikan solusi sebelum benar-benar memahami persoalannya.

Teolog dan penulis Kristen, Dietrich Bonhoeffer, pernah menulis “Tindakan kasih yang pertama kepada saudara adalah mendengarkannya.” Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa mendengar bukan sekadar keterampilan komunikasi, melainkan tindakan kasih. Ketika kita sungguh-sungguh mendengarkan seseorang, kita sedang mengatakan bahwa dirinya berharga dan penting bagi kita. Banyak luka dalam keluarga sebenarnya bukan muncul karena kebencian, melainkan karena perasaan tidak didengar. Ada anak yang merasa pendapatnya tidak pernah dianggap. Ada orang tua yang merasa pengorbanannya tidak pernah dipahami. Ada pasangan yang merasa pergumulannya diabaikan. Akibatnya, hubungan yang seharusnya dekat perlahan menjadi renggang.Sebagai keluarga Mesianik, kita dipanggil untuk membangun budaya mendengar. Mendengar cerita, mendengar pergumulan, mendengar sukacita, bahkan mendengar hal-hal sederhana yang mungkin dianggap sepele. Ketika telinga kita terbuka bagi anggota keluarga, sering kali hati kita pun akan semakin terbuka untuk mengasihi mereka. Hari ini, sebelum berusaha didengar oleh orang lain, marilah kita belajar menjadi pendengar yang baik. Sebab kebersamaan yang sejati dimulai ketika setiap anggota keluarga merasa bahwa dirinya didengar, dihargai, dan dikasihi.

Refleksi Siapakah anggota keluarga yang akhir-akhir ini lebih banyak saya dengar untuk menjawab daripada saya dengar untuk memahami?

Doa Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk memiliki hati yang rendah dan telinga yang terbuka bagi anggota keluarga kami.  Amin. -Van

Bacaan Alkitab
Bilangan 8-10