MELAWAN KEEGOISAN DEMI KEBERSAMAAN
“Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan…”
(1 Timotius 3:2-3)
Ketika membaca kriteria yang dituliskan Paulus bagi seorang penilik jemaat, kita mungkin berpikir bahwa bagian ini hanya berbicara tentang para pemimpin gereja. Namun sesungguhnya prinsip-prinsip yang disebutkan di sini merupakan karakter yang harus dimiliki setiap orang percaya, termasuk dalam kehidupan keluarga.
Perhatikan beberapa karakter yang disebutkan Paulus, dapat menahan diri, bijaksana, tidak pemarah, dan tidak menjadi hamba uang. Semua karakter ini memiliki satu kesamaan: kemampuan untuk tidak hidup dikuasai oleh diri sendiri.
Mengapa hal ini penting? Karena salah satu musuh terbesar kebersamaan adalah keegoisan. Dalam materi minggu ini disebutkan bahwa kebersamaan harus dibangun dengan niat, kesengajaan, dan kesungguhan. Bahkan sering kali kebersamaan menuntut pengorbanan waktu, tenaga, finansial, hobi, dan kesukaan pribadi yang justru dapat “mengurung” seseorang dalam kesendirian dan keegoisannya.
Pernyataan ini sangat sesuai dengan realitas kehidupan kita. Sering kali masalah terbesar dalam keluarga bukanlah kurangnya kasih, melainkan terlalu besarnya cinta kepada diri sendiri. Kita ingin didengar, tetapi tidak mau mendengar. Kita ingin dipahami, tetapi tidak mau memahami. Kita ingin diperhatikan, tetapi tidak mau memperhatikan. Kita ingin keluarga mendukung agenda kita, tetapi enggan mendukung kebutuhan keluarga.
Dosa selalu membawa manusia kepada pusat yang salah diri sendiri. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, kecenderungan hati manusia adalah hidup untuk kepentingannya sendiri. Karena itulah kebersamaan yang sejati tidak pernah terjadi secara alami. Kebersamaan harus diperjuangkan melawan kecenderungan dosa yang terus mendorong kita untuk memikirkan diri sendiri lebih dahulu.
Berbeda dengan dunia yang mengajarkan, “Utamakan dirimu sendiri,” Firman Tuhan mengajarkan “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:4) Ayat ini tidak berarti kita mengabaikan diri sendiri, tetapi mengingatkan bahwa kehidupan Kristen selalu mengandung dimensi pengorbanan dan perhatian kepada sesama. Yesus sendiri menjadi teladan yang sempurna. Ia meninggalkan kemuliaan surga, mengambil rupa seorang hamba, dan menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan manusia. Kehidupan Kristus menunjukkan bahwa kasih sejati selalu melibatkan pengorbanan.
Di dalam keluarga, pengorbanan sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana. Mengurangi waktu untuk diri sendiri demi mendampingi anak. Menunda kesenangan pribadi untuk membangun komunikasi dengan pasangan. Mengorbankan kenyamanan demi melayani orang tua. Menyisihkan waktu di tengah kesibukan untuk hadir bersama keluarga. Mungkin tindakan-tindakan itu terlihat kecil, tetapi justru di situlah kebersamaan dibangun.
Sayangnya, zaman ini sering mendorong kita untuk hidup dalam dunia masing-masing. Teknologi, hiburan, komunitas, pekerjaan, dan berbagai aktivitas lainnya dapat menjadi berkat, tetapi jika tidak dijaga, semuanya dapat menggeser prioritas keluarga. Tanpa disadari, seseorang bisa menjadi sangat aktif di luar rumah, tetapi semakin pasif di dalam rumah.
Renungan minggu ini mengingatkan kita bahwa tidak ada kehidupan keluarga yang dapat dibangun tanpa kebersamaan. Dan tidak ada kebersamaan yang dapat dibangun tanpa pengorbanan. Sebagai keluarga Mesianik, kita dipanggil untuk meneladani Kristus. Kebersamaan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kasih yang rela berkorban. Ketika setiap anggota keluarga belajar mengalahkan keegoisannya dan mulai memikirkan kebutuhan satu sama lain, rumah akan menjadi tempat yang penuh dengan damai sejahtera dan kasih karunia Tuhan.
Hari ini, marilah kita memeriksa hati kita di hadapan Tuhan. Mungkin yang perlu diperbaiki dalam keluarga bukanlah orang lain terlebih dahulu, melainkan diri kita sendiri. Mungkin Tuhan sedang memanggil kita untuk melepaskan sebagian keegoisan agar kebersamaan dapat kembali bertumbuh.
Refleksi Hal apa dalam hidup saya yang sering kali lebih saya prioritaskan daripada kebersamaan dengan keluarga? Apakah ada kenyamanan, kesibukan, atau kepentingan pribadi yang perlu saya serahkan kepada Tuhan?
Doa Bapa yang penuh kasih,bentuklah kami menjadi anggota keluarga yang tidak hidup untuk diri sendiri, tetapi yang saling memperhatikan, melayani, dan menguatkan. Amin. -Van
Bacaan Alkitab
Bilangan 16-17
