HATI YANG TIDAK KEHILANGAN KEPEKAAN

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis.
(Roma 12:15)

Setiap hari kita disuguhkan berbagai berita tentang keadaan bangsa ini. Berita tentang bencana alam, kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, konflik sosial, hingga berbagai persoalan moral begitu mudah kita temukan melalui televisi, media sosial, maupun percakapan sehari-hari. Pada awalnya mungkin hati kita masih tergerak ketika melihat semua itu. Kita merasa sedih, prihatin, bahkan ikut mendoakan. Namun, seiring berjalannya waktu, semua berita itu menjadi sesuatu yang biasa. Kita melihatnya setiap hari hingga tanpa sadar hati kita menjadi kebal. Kita mengetahui banyak hal, tetapi tidak lagi benar-benar peduli. Kita mendengar, tetapi tidak lagi ikut merasakan.

Kondisi seperti inilah yang perlu kita waspadai sebagai orang percaya. Hati yang kehilangan kepekaan perlahan akan kehilangan kasih. Ketika kasih mulai memudar, doa pun menjadi hambar. Kita lebih mudah mengkritik daripada berdoa, lebih cepat menghakimi daripada berbelas kasihan, dan lebih sibuk mencari siapa yang salah daripada bertanya apa yang Tuhan ingin kita lakukan.

Nehemia memberikan teladan yang berbeda. Ketika Hanani datang membawa kabar tentang Yerusalem, ia mendengar bahwa tembok kota masih runtuh dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Orang-orang yang kembali dari pembuangan hidup dalam kesusahan dan kehinaan. Berita itu bukan sekadar informasi bagi Nehemia. Berita itu menyentuh hatinya. Alkitab mencatat bahwa ia duduk menangis, berkabung beberapa hari, berpuasa, dan berdoa di hadapan Allah semesta langit (Neh. 1:4). Reaksi Nehemia menunjukkan bahwa ia memiliki hati yang tidak kehilangan kepekaan terhadap keadaan umat Tuhan.

Yang menarik, saat itu Nehemia sebenarnya hidup dalam posisi yang nyaman. Ia bekerja sebagai juru minuman raja Persia, jabatan yang terhormat dan penuh kepercayaan. Ia bisa saja berkata bahwa keadaan Yerusalem bukan lagi urusannya. Bukankah ia tinggal jauh dari sana? Bukankah sudah ada orang lain yang memikirkan kota itu? Namun, kasih kepada Tuhan dan kepada bangsanya membuat Nehemia tidak mampu bersikap acuh. Ia memilih membawa pergumulan bangsanya ke hadapan Tuhan dalam doa.

Sikap Nehemia mengingatkan kita kepada nasihat Rasul Paulus, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis” (Rm. 12:15). Firman Tuhan mengajarkan bahwa kehidupan orang percaya tidak berpusat pada dirinya sendiri. Tuhan memanggil kita untuk belajar merasakan apa yang dirasakan oleh sesama. Ketika ada saudara yang sedang bergumul, kita tidak menutup mata. Ketika bangsa ini menghadapi berbagai persoalan, kita tidak memilih untuk bersikap masa bodoh. Hati yang dipenuhi kasih Kristus akan selalu memiliki ruang untuk peduli terhadap orang lain.

Tema bulan ini mengingatkan kita bahwa gereja dipanggil menjadi Church for the Country. Panggilan itu dimulai bukan dari program yang besar atau kegiatan yang meriah, tetapi dari hati yang peka. Gereja tidak akan menjadi berkat bagi bangsa apabila hati jemaatnya sudah tidak lagi tergerak melihat keadaan di sekitarnya. Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan semua persoalan bangsa, tetapi kita dapat memulainya dengan memiliki hati yang peduli. Kepedulian itulah yang akan mendorong kita untuk berdoa, melayani, menolong, dan melakukan bagian yang Tuhan percayakan.

Karena itu, marilah kita belajar memiliki hati seperti Nehemia. Jangan biarkan hati kita menjadi keras karena terlalu sering melihat persoalan. Jangan biarkan kita terbiasa dengan dosa, penderitaan, atau kerusakan yang terjadi di sekitar kita. Mintalah kepada Tuhan hati yang tetap lembut, hati yang mampu melihat keadaan dengan belas kasihan, dan hati yang rela membawa setiap pergumulan kepada-Nya. Tuhan sering kali memulai pekerjaan-Nya yang besar melalui seseorang yang terlebih dahulu memiliki hati yang peduli.

Kiranya Roh Kudus terus memelihara kepekaan rohani kita. Ketika melihat bangsa ini menghadapi berbagai tantangan, janganlah kita hanya menjadi penonton atau pemberi komentar. Jadilah pendoa, jadilah pembawa damai, dan jadilah pribadi yang menghadirkan kasih Kristus di mana pun Tuhan menempatkan kita. Sebab perubahan yang Tuhan kerjakan sering kali dimulai dari hati yang bersedia ikut merasakan beban orang lain. – Tin

Bacaan Alkitab
Bilangan 23-24