MENGGENGGAM JANJI DI TENGAH RERUNTUHAN
Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia yang menjanjikannya adalah setia.
(Ibrani 10:23)
Ada kalanya hidup membawa kita pada keadaan yang membuat pengharapan terasa semakin tipis. Kita sudah berdoa, tetapi keadaan belum berubah. Kita sudah berusaha, tetapi persoalan tetap ada. Demikian pula ketika melihat kondisi bangsa ini. Berbagai persoalan seolah datang silih berganti. Ketidakadilan, kemerosotan moral, perpecahan, bencana, dan berbagai tantangan lainnya sering kali membuat kita bertanya, “Apakah masih ada harapan bagi bangsa ini?”
Pertanyaan seperti itu bukan hanya muncul pada zaman sekarang. Nehemia pun menghadapi keadaan yang hampir serupa. Ketika mendengar kabar dari Yerusalem, ia mengetahui bahwa kota yang menjadi lambang kehadiran Allah itu masih berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Tembok-temboknya runtuh, pintu-pintu gerbangnya terbakar, dan umat yang tinggal di sana hidup dalam kehinaan. Secara manusia, keadaan itu tampak begitu sulit untuk dipulihkan.
Namun yang menarik, Nehemia tidak membiarkan keadaan menguasai pikirannya. Setelah mengakui dosa bangsanya, ia mengingatkan Tuhan akan janji-Nya kepada Musa. Dalam doanya ia berkata, “Ingatlah akan firman yang telah Kaupesankan kepada Musa, hamba-Mu itu…” (Neh. 1:8). Tentu saja Nehemia bukan sedang mengingatkan Allah seolah-olah Allah lupa terhadap janji-Nya. Nehemia sedang menunjukkan bahwa pengharapannya tidak bertumpu pada keadaan, melainkan pada firman Tuhan yang tidak pernah berubah.
Inilah salah satu pelajaran penting dalam kehidupan iman. Pengharapan sejati tidak dibangun di atas situasi yang baik, melainkan di atas janji Allah yang setia. Keadaan dapat berubah setiap saat. Manusia dapat mengecewakan. Rencana bisa gagal. Tetapi firman Tuhan tidak pernah berubah. Apa yang Tuhan janjikan akan tetap Ia genapi menurut waktu dan kehendak-Nya.
Penulis Ibrani mengingatkan, “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia yang menjanjikannya adalah setia.” (Ibr. 10:23). Kesetiaan Allah menjadi dasar mengapa kita tidak kehilangan harapan. Kita percaya bukan karena semuanya sudah baik, tetapi karena kita mengenal Pribadi yang memegang masa depan. Tuhan tetap bekerja bahkan ketika mata kita belum melihat hasilnya.
Sebagai gereja yang Tuhan tempatkan di Indonesia, kita juga dipanggil untuk hidup dengan pengharapan seperti Nehemia. Sangat mudah bagi kita untuk menjadi pesimis ketika melihat berbagai persoalan bangsa. Namun Tuhan tidak pernah memanggil gereja untuk hidup dalam keputusasaan. Sebaliknya, gereja dipanggil menjadi komunitas yang terus memegang janji Allah, percaya bahwa Tuhan masih berkarya, dan yakin bahwa tidak ada keadaan yang terlalu sulit bagi-Nya.
Menggenggam janji Allah bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Nehemia tidak pernah menyangkal bahwa Yerusalem sedang hancur. Ia melihat kenyataan itu dengan jujur, tetapi ia memilih untuk tidak berhenti pada kenyataan tersebut. Pandangannya diarahkan kepada Allah yang sanggup mengubah keadaan. Inilah perbedaan antara optimisme manusia dan pengharapan iman. Optimisme bergantung pada keadaan yang terlihat, sedangkan pengharapan iman bertumpu pada karakter Allah yang setia.
Mungkin hari ini kita sedang menghadapi “reruntuhan” dalam hidup kita. Bisa jadi itu adalah pergumulan dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, kesehatan, atau bahkan melihat kondisi bangsa yang membuat hati kita sedih. Jangan biarkan reruntuhan itu merampas pengharapan kita. Belajarlah seperti Nehemia, membawa semuanya kepada Tuhan sambil tetap berpegang pada firman-Nya. Tuhan yang dahulu memulihkan Yerusalem adalah Tuhan yang sama yang masih bekerja pada hari ini.
Kiranya sebagai umat Tuhan, kita tidak dikenal sebagai orang-orang yang mudah putus asa, melainkan sebagai orang-orang yang tetap berpengharapan karena mengenal Allah yang setia. Ketika dunia dipenuhi rasa takut dan ketidakpastian, biarlah gereja hadir membawa keyakinan bahwa Tuhan masih memegang kendali atas sejarah, atas bangsa ini, dan atas kehidupan setiap anak-Nya. – Tin
Bacaan Alkitab
Bilangan 27-28
