KASIH KARUNIA YANG MEMULIHKAN
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
(Ratapan 3:22-23)
Ada kalanya seseorang merasa bahwa dirinya sudah terlalu jauh dari Tuhan. Penyesalan atas masa lalu, kegagalan, atau dosa yang pernah dilakukan membuatnya berpikir bahwa tidak mungkin lagi ada kesempatan untuk dipulihkan. Perasaan yang sama juga dapat muncul ketika melihat keadaan sebuah keluarga, gereja, bahkan bangsa. Kerusakan yang begitu besar sering kali membuat kita bertanya, “Masih mungkinkah Tuhan memulihkan semuanya?”
Nehemia menghadapi situasi yang tidak jauh berbeda. Yerusalem, kota yang menjadi pusat kehidupan umat Allah, berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Tembok kota runtuh, pintu-pintu gerbang terbakar, dan umat hidup dalam kesusahan serta kehinaan. Semua itu bukan terjadi tanpa alasan. Bangsa Israel mengalami pembuangan karena ketidaktaatan mereka kepada Tuhan. Mereka menuai akibat dari dosa yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.
Namun, Nehemia tidak berhenti pada kenyataan pahit itu. Di tengah doanya, ia mengingat janji Tuhan yang pernah disampaikan kepada Musa, bahwa apabila umat-Nya berbalik kepada-Nya dan hidup dalam ketaatan, Tuhan sendiri akan mengumpulkan serta memulihkan mereka kembali (Neh. 1:9). Pengharapan Nehemia tidak lahir karena keadaan sudah berubah, melainkan karena ia mengenal hati Allah yang penuh belas kasihan.
Inilah yang menjadi dasar pengharapan setiap orang percaya. Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang senang menghukum, melainkan Allah yang penuh kasih karunia. Ia memang membenci dosa, tetapi Ia selalu membuka jalan bagi orang yang mau bertobat. Kasih-Nya tidak pernah habis, dan belas kasihan-Nya tidak pernah berhenti. Itulah sebabnya Nabi Nehemia, di tengah kehancuran Yerusalem, masih sanggup berkata, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat. 3:22–23).
Perkataan itu bukan diucapkan ketika keadaan sedang baik. Justru sebaliknya, Nehemia mengucapkannya ketika melihat kota Yerusalem telah hancur. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa kasih karunia Tuhan tidak bergantung pada keadaan. Di tengah reruntuhan sekalipun, Tuhan tetap setia. Ketika manusia melihat kehancuran, Tuhan masih melihat kemungkinan untuk memulihkan.
Demikian pula dengan kehidupan kita. Mungkin ada di antara kita yang sedang bergumul dengan kegagalan, hubungan yang retak, pelayanan yang terasa berat, atau pergumulan lain yang membuat hati menjadi lemah. Bisa juga kita merasa sedih melihat keadaan bangsa yang masih dipenuhi berbagai persoalan. Jangan biarkan semua itu membuat kita kehilangan pengharapan. Selama masih ada pertobatan, masih ada kasih karunia Tuhan yang bekerja. Selama kita datang kepada-Nya dengan hati yang rendah, Tuhan sanggup memulihkan apa yang tampaknya sudah mustahil untuk diperbaiki.
Sebagai gereja yang Tuhan tempatkan di Indonesia, kita dipanggil untuk menjadi saksi tentang kasih karunia-Nya. Dunia sudah terlalu banyak mendengar kata-kata penghakiman. Yang dibutuhkan bangsa ini adalah melihat kehidupan orang percaya yang telah dipulihkan oleh kasih Tuhan dan menjadi saluran pemulihan bagi orang lain. Gereja yang mengalami kasih karunia akan lebih mudah mengampuni, lebih mudah mengasihi, dan lebih giat mendoakan bangsanya daripada sibuk menghakimi.
Kasih karunia juga mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah terhadap siapa pun. Jangan pernah berkata bahwa seseorang sudah tidak mungkin berubah atau sebuah keadaan sudah tidak mungkin dipulihkan. Jika Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertobat, berarti Tuhan masih sedang bekerja. Tidak ada hidup yang terlalu rusak untuk dipulihkan oleh tangan-Nya.
Kiranya pengharapan ini memenuhi hati kita hari ini. Apa pun keadaan yang sedang kita hadapi, marilah kita terus percaya bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah berakhir. Dia adalah Allah yang sama yang memulihkan Yerusalem, memulihkan umat-Nya, dan masih sanggup memulihkan kehidupan kita, gereja kita, bahkan bangsa Indonesia. Kasih karunia-Nya selalu lebih besar daripada kegagalan manusia. – Tin
Bapa yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu yang menguatkan kami. Tolong kami untuk terus percaya pada kasih karunia-Mu yang sanggup memulihkan setiap kehidupan. Mampukan kami menjadi saksi kasih-Mu di tengah keluarga, gereja, dan bangsa. Sertai langkah kami sepanjang hari ini. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Bacaan Alkitab
Bilangan 29-30
