DOA BAGI NEGERI: KETIKA DOA TERASA SIA-SIA

“Berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”
(Yeremia 29:7b)

Salah satu alasan mengapa orang percaya berhenti mendoakan negerinya bukan karena mereka tidak tahu harus berdoa, tetapi karena mereka merasa doa mereka tidak menghasilkan apa-apa. Hari demi hari mereka melihat berita yang sama. Tahun demi tahun mereka menyaksikan masalah yang seolah tidak pernah selesai. Bahkan terkadang keadaan terlihat semakin memburuk. Pada titik tertentu muncul pertanyaan di dalam hati:“Apakah doa saya benar-benar berarti?” “Apakah Tuhan masih bekerja?” “Apakah ada gunanya terus berdoa?” Perasaan seperti ini bukanlah hal yang baru. Sejak zaman Alkitab, umat Tuhan juga pernah mengalaminya. Ketika Yeremia menyampaikan surat kepada orang-orang buangan di Babel, tidak ada tanda-tanda bahwa keadaan akan segera berubah. Babel masih kuat. Yerusalem masih hancur. Pembuangan masih berlangsung. Secara kasat mata, tidak ada alasan untuk optimis. Namun justru dalam situasi seperti itulah TUHAN berkata: “Berdoalah.” Perintah ini mengajarkan bahwa doa tidak bergantung pada apa yang kita lihat, tetapi pada siapa yang kita percaya. Jika doa hanya dilakukan ketika hasilnya terlihat jelas, maka doa bukan lagi tindakan iman. Tetapi doa sejati tetap dilakukan sekalipun hasilnya belum terlihat.

Yeremia sendiri adalah contoh yang sangat kuat. Ia melayani selama puluhan tahun. Ia menyampaikan firman Tuhan dengan setia. Ia menangis bagi bangsanya. Ia memperingatkan mereka berulang kali. Namun sebagian besar pelayanannya diwarnai penolakan. Secara manusia, pelayanan Yeremia mungkin tampak tidak berhasil. Tetapi di mata Tuhan, Yeremia tetap seorang hamba yang setia. Demikian pula dengan doa bagi negeri. Kita mungkin tidak langsung melihat perubahan. Kita mungkin tidak segera melihat kebangunan rohani. Kita mungkin belum melihat para pemimpin bertobat atau keadilan ditegakkan. Namun hal itu tidak membuat doa menjadi sia-sia. Doa bukanlah usaha untuk memaksa Tuhan bekerja sesuai jadwal kita.

Doa adalah pernyataan bahwa kita percaya Tuhan sedang bekerja, bahkan ketika mata kita belum melihat hasilnya. Setiap kali kita berdoa bagi negeri, kita sedang mengakui bahwa masa depan bangsa ini tidak berada di tangan manusia semata, tetapi berada di bawah kedaulatan Allah. Karena itu, jangan ukur nilai doa dari kecepatan hasil yang terlihat. Ukurlah doa dari kesetiaan untuk terus datang kepada Tuhan. Boleh jadi perubahan yang kita rindukan belum terjadi hari ini. Tetapi tidak ada satu doa pun yang dinaikkan dengan iman yang terabaikan di hadapan Tuhan. 

Refleksi: Apakah saya pernah berhenti mendoakan negeri ini karena merasa doa tidak ada gunanya? Jika Tuhan tetap memerintahkan umat-Nya untuk berdoa, mampukah saya tetap setia berdoa meskipun belum melihat hasil yang saya harapkan?

Doa: Tuhan, ketika kami merasa doa kami sia-sia dan tidak melihat perubahan yang kami harapkan, teguhkan iman kami untuk tetap setia berdoa bagi negeri ini, karena kami percaya Engkau sedang bekerja menurut waktu dan kehendak-Mu yang sempurna. Amin. (Yun).

Bacaan Alkitab
Ulangan 5-7