MENGHADIRKAN SHALOM
“Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.”
(Roma 14:19)
Beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan dunia berubah dengan sangat cepat. Berita tentang perang, perpecahan, kebencian, penyebaran hoaks, perselisihan karena perbedaan pilihan, hingga rusaknya hubungan di dalam keluarga semakin sering kita dengar. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin maju, ternyata hati manusia tidak otomatis menjadi semakin damai. Banyak orang mudah marah, sulit mengampuni, cepat menghakimi, dan lebih senang memperbesar perbedaan daripada membangun kebersamaan.
Indonesia pun tidak lepas dari tantangan itu. Sebagai bangsa yang memiliki begitu banyak suku, budaya, bahasa, dan latar belakang, kita dapat hidup dalam keberagaman karena Tuhan menghendakinya. Namun keberagaman hanya akan menjadi kekuatan apabila ada orang-orang yang bersedia menghadirkan shalom. Itulah sebabnya gereja tidak ditempatkan Tuhan untuk menjauh dari dunia, tetapi hadir di tengah masyarakat sebagai pembawa damai dan saksi Kristus.
Rasul Paulus berkata, “Marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” Kata “mengejar” menunjukkan bahwa shalom tidak hadir dengan sendirinya. Shalom perlu diperjuangkan. Kadang kita harus mengalahkan ego, meminta maaf lebih dahulu, mengampuni orang yang melukai kita, menjaga perkataan, dan memilih membangun daripada menjatuhkan. Semua itu tidak mudah, tetapi itulah panggilan setiap pengikut Kristus.
Selama satu minggu ini kita telah belajar bahwa shalom dimulai dari hati yang diubahkan Tuhan, diwujudkan melalui sikap hidup, dinyatakan lewat perkataan, dibangun melalui tindakan yang saling menguatkan, dan dihadirkan melalui kehadiran kita bagi sesama. Semua itu tidak mungkin dilakukan dengan kekuatan manusia semata. Karena itu, pusat dari shalom bukanlah usaha kita, melainkan Yesus Kristus.
Dialah Sang Shalom yang terlebih dahulu mendamaikan manusia dengan Allah melalui salib-Nya. Dari damai yang kita terima di dalam Kristus, kita dipanggil untuk membawa damai itu kepada keluarga, gereja, lingkungan kerja, masyarakat, bahkan bangsa tempat Tuhan menempatkan kita.
Hari ini mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah hidupku sedang menjadi bagian dari masalah, atau menjadi saluran shalom Kristus? Kiranya melalui kehidupan kita, orang lain dapat melihat kasih Kristus dan merasakan damai sejahtera yang hanya berasal dari Tuhan Yesus Kristus.
Doa: Bapa yang baik kami mengucap syukur buat perenungan firman Tuhan, sekiranya kami dapat membawah Shalom-Mu karena kami percaya bahwa Engkaulah Shalom yang ajaib itu di dalam kehidupan kami, terus pakai kehidupan kami Tuhan menjadi penyalur berkat , penyalur damai bagi setiap orang-orang yang ada di sekitar kami, didalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin (Cgm).
Bacaan Alkitab
Hakim-Hakim 1-2
