MENGHADIRKAN SHALOM

 “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.”
(Lukas 10:5-6)

Di zaman sekarang, banyak orang merasa kesepian meskipun hidup di tengah keramaian. Mereka memiliki banyak teman di media sosial, tetapi tidak memiliki tempat untuk benar-benar didengar. Tidak sedikit orang yang sedang memikul beban hidup, tetapi memilih diam karena merasa tidak ada yang peduli. Dalam keadaan seperti itu, kehadiran seseorang yang mau datang, mendengar, dan memberi perhatian sering kali lebih berarti daripada nasihat yang panjang.

Seorang penulis Kristen, pernah mengatakan bahwa pelayanan yang paling berharga bukan selalu tentang memberikan jawaban, tetapi tentang menghadirkan kasih Tuhan melalui kehadiran kita. Kadang-kadang, orang tidak membutuhkan penjelasan yang rumit. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia hadir bersama mereka. Hal inilah yang tampak ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya. Menariknya, Yesus tidak menyuruh mereka terlebih dahulu berkhotbah atau melakukan mukjizat. Sebelum semua itu, mereka diminta mengucapkan, “Damai sejahtera bagi rumah ini.” Dalam bahasa Ibrani, damai sejahtera adalah shalom (שָׁלוֹם). Kata ini bukan sekadar salam, tetapi doa dan harapan agar Allah menghadirkan pemulihan, sukacita, dan kesejahteraan bagi setiap orang yang menerima-Nya.

Perintah Yesus menunjukkan bahwa kehadiran seorang murid Kristus seharusnya membawa suasana yang berbeda. Orang percaya dipanggil bukan menjadi sumber pertengkaran, melainkan pembawa shalom. Bahkan ketika shalom itu tidak diterima, Yesus berkata bahwa damai itu akan kembali kepada mereka. Artinya, tugas kita bukan memaksa orang menerima damai, tetapi setia menghadirkannya melalui hidup kita. Kristus sendiri adalah Sang Shalom yang datang ke dunia. Kehadiran-Nya membawa pengharapan bagi orang berdosa, menghibur yang terluka, dan memulihkan yang terhilang.

Karena itu, ketika Kristus hidup di dalam kita, kehadiran kita pun seharusnya menjadi saluran shalom bagi keluarga, gereja, tempat kerja, bahkan bangsa tempat Tuhan menempatkan kita.

Hari ini mari bertanya kepada diri sendiri: apakah kehadiranku membuat orang lain merasa tenang dan dikuatkan, atau justru merasa tertekan dan terluka? Kiranya ke mana pun kita pergi, orang dapat merasakan kasih Kristus melalui kehidupan kita.

Doa:Tuhan, ajar aku untuk menghadirkan shalom melalui hidupku. Biarlah kehadiranku membawa penghiburan, pengharapan, dan kasih-Mu bagi setiap orang yang kutemui. Pakailah aku menjadi saluran damai-Mu. Amin.(Cgm)

Bacaan Alkitab
Yosua 19-21